Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

15 Wisdom dan Sukses by Andrie Wongso - Bagian 2

 Di bagian pertama sudah ada 5 cerita yang memotivasi kita. Berikut ini adalah 5 cerita selanjutnya.

6.AKU ADALAH MACAN
Suatu hari ditengah hutan belantara tampak seekor Macan meninggal dunia setelah melahirkan anaknya, tidak lama berselang datang segerombolan kambing melintas di tempat itu, melihat kondisi itu timbul naluri ibu kambing untuk melindungi dan menghampiri si anak macan yang kelihatan tidak berdaya itu, diberinya belaian kehangatan dan kemudian anak macan pun mengikuti kemana ibu kambing pergi. Hari-hari berikutnya anak macan hidup bersama kawan kambing, menyusu dari induk kambing, bermain dengan anak-anak kambing lainnya, makan dan minum ala kambing, bersuara pun menyerupai kambing dan merasa dirinya bagian dari kawan kambing. Hingga suatu hari rombongan kambing dan anak macan tampak ketakutan berlarian karena dikejar seekor macan besar, macan itu keheranan mengapa anak macan ikut berlarian bersama kambing. Macan besar kemudian mengaum dengan keras anak macan “hai macan kecil mengapa kamu lari, berhenti jangan lari” anak macan tidak menggubris dan terus berlari semakin kencang, Macan besar terus dan terus mengejar akhirnya berhasil menangkap macan kecil dan bertanya mengapa kamu berlari?? Kamu bukan kambing, kamu macan seperti aku, Si macan kecil menjawab, bukan, aku bukan macan, aku kambing sama seperti mereka. Maka untuk membuktikan kebenaran kata-katanya si macan besar membawa ke tepi danau, saat melihat pantulan bayangan di air macan kecil terkejut melihat dirinya dan sadar dia bukan kambing. Aku adalah macan, aku bukan kambing, sesaat setelah sadar suara auman dengan keras pun di perdengarkan”

Ternyata dalam menghadapi kehidupan karena ketidakmampuan mengenali jati diri kita yang sebenarnya menyebabkan kita tidak mampu mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki, seringkali kita hidup dan bekerja tanpa semangat, semua dijalani ala kadarnya. Kalau pun memiliki impian itu hanya seumur jagung sebab tanpa dilandasi keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat maka perjuangan sulit untuk bertahan hingga tercapai hasil yang kita inginkan. Maka miliki keberanian menetapkan target kehidupan yang akan diraih, miliki keyakinan dan kepercayaan diri kita bisa sukses seperti Macan kecil yang telah menemukan jati dirinya kembali. You can become the person you want to be, anda bisa menjadi seseorang seperti yang anda inginkan. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap walaupun hanya dengan segenggam harapan, tetapi kita berani melangkah ke depan dengan pasti.

7.KEKUATAN CINTA
Seorang wanita baru menikah dengan pria yang dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka tinggal serumah, sangat terasa banyak ketidakcocokan diantara menantu dan sang mertua. Hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dari ibu mertua. Percekcokkan pun seringkali terjadi. Apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya. Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, diapun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya. Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional. Wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan memohon agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya. Setelah berpikir sejenak dengan senyumnya yang bijak, si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yang dibuatnya, sang paman berpesan : ”Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yang bereaksi cepat, agar orang-orang tidak akan curiga. Karena itu, saya memberimu ramuan yang secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu. Setiap hari campurkan sedikit ramuan ini ke dalam masakan kesukaan ibu mertuamu dari hasil masakkanmu sendiri, Kamu harus bersikap baik, menghormati,dan tidak berdebat dengannya, perlakukan dia layaknya ibumu sendiri, agar orang lain tidak akan curiga saat ibu mertuamu meninggal nanti. 

Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat, dilayani sang ibu mertua dengan sangat baik dan penuh perhatian, setiap hari disuguhkan makanan kesukaan si ibu, dan tidak terasa empat bulan telah berlalu. Terjadi perubahan yang sangat besar. Dari hari ke hari, melihat sang menantu yang bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertuapun tersentuh dan berbalik mulai menyayangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang penuh kasih dan menyayanginya. Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat : ”Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasehat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik dan menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Tolong paman, saya tidak ingin dia mati karena racun yang telah saya berikan”.

Sang paman tersenyum puas dan berkata “Anakku, kamu tidak perlu kuatir. Ramuan yang saya berikan dulu bukanlah racun, tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yang sebenarnya adalah di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua, dan sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih dan perhatian yang kamu berikan padanya.”

Cerita ini telah mengajarkan kepada kita betapa luar biasanya ai tek lik liang ! kekuatan kasih,dan kuan sing tek lik liang kekuatan perhatian. Kasih dan perhatian mendatangkan kepudulian, ketulusan, dan kerelaan untuk berkorban. Kasih dan perhatian mampu melepaskan kita dari belenggu kesalahpahaman, meluluhkan ketidakpedulian, hati yang keras dan pikiran yang penuh kebencian. Kasih dan perhatian itu mendatangkan kedamaian, dan merekatkan perbedaan menjadi kedekatan yang menyenangkan.
Jika setiap hari kita mau memberikan kasih dan kepedulian kita, maka kehidupan kita pasti akan menjadi bermakna dan mendatangkan kebahagiaan.

8.TENGKORAK YANG BANYAK BICARA
Dahulu kala ada seorang pengembara yang banyak bicara, suatu ketika dia melewati hutan belantara yang sebelumnya belum pernah diinjak oleh manusia. Dengan perasaan takut dia melewati hutan belantara itu, terdengar sura-suara serangga yang ikut menghiasi. Dan tiba-tiba ia terkejut mendengar suara ocehan seseoran, ia mencoba mencari dan mengikuti dengan seksama dari mana sura itu datang. Dia lihat antara semak-semak suara itu pun terdengar semakin dekat, dan ternyata suara itu berasal dari tengkorak yang berada dibawah pohon. Pengembara itu memberanikan diri untuk bertanya " Hai tengkorak, bagaimana kau bisa sampai disini ? " "mulut yang banyak bicaralah yang bisa membuat aku sampai disini." Lalu setelah ia keluar dari hutan, pengembara itu menceritakan semua tentang dirinya yang bertemu dengan tengkorak yang bisa bicara. Sampai suatu ketika si pengembara itu menceritakan hal yang dialaminya kepada Sang Raja. Sang Rajapun memintanya untuk mengantari ke tempat tengkorak yang bisa bicara itu. Setelah sesampainya pengembara bertanya lagi " Hai tengkorak, bagaimana kau bisa sampai disini ? " tapi tengkorak itu hanya diam membisu. Pengembara itu mengulangi pertanyaannya dan tengkorak masih diam membisu dia ulangi lagi pertanyaannya tengkorak itu masih saja diam.

Setelah beberapa waktu Sang Raja pun kesal " Hai pengembara, mana semua bukti ucapan mu ??!! sebenarnya dari awal aku pun tidak percaya dengan apa yang kau katakan ! " lalu Sang Raja menyuruh pengawal untuk memenggal kepala si pengembara itu, kemudian diletakan di bawah pohon tepat disamping tengkorak tadi, lalu tengkorak bertanya " Hey, bagaiman kau bisa sampai disini ? " mayat pengembara yang sudah di penggal itu menjawab " mulut yang banyak bicaralah yang bisa membuat aku sampai disini. "

Inti dari kisah ini adalah "Kesalahpahaman dan Permusuhan timbul gara-gara ucapan yang tidak pada tempatnya. Bisa mengendalikan diri, tahu kapan harus diam dan tahu kapan harus berbicara adalah sikap yang bijak"

9.KAKEK BODOH MEMINDAHKAN GUNUNG
Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.

"Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?"
Si kakek menghentikan kerjanya. "Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak," jawabnya mantap.
"Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!" tanya si pemuda tidak percaya.
"Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan," lanjutnya. "Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?"
Si kakek menjawab dengan lantang, "Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya... Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!"
Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.

Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.

Netter yang luar biasa, Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan "Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung."
Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.
Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun. Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!

10.OMBAK BESAR DAN OMBAK KECIL
Da Lang Yu Xiao Lang
Alkisah, di tengah samudra yang maha luas, tampaklah ombak besar sedang bergulung-gulung dengan suaranya yang menggelegar, tampak bersuka ria menikmati kedasyatan kekuatannya, seakan-akan menyatakan keberadaan dirinya yang besar dan gagah perkasa. Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, tampak sang ombak kecil bersusah payah mengikuti. Ia terlihat lemah, tertatih-tatih, tak berdaya, dan jauh tersisih di belakang. Akhirnya, ombak kecil hanya bisa menyerah dan mengekor ke mana pun ombak besar pergi. Tetapi, di benaknya selalu muncul pertanyaan, mengapa dirinya begitu lebih lemah dan tak berdaya? Suatu kali, ombak kecil bermaksud mengadu kepada ombak besar. Sambil tertaih-tatih ombak kecil berteriak: "Hai ombak besar. Tunggu.!"

Sayup-sayup suara ombak kecil didengar juga oleh ombak besar. Lalu sang ombak besar sedikit memperlambat gerakannya dan berputar-putar mendekati arah datangnya suara. "Ada apa sahabat?" Jawab ombak besar dengan suara menggelegar hebat.
"Aih.pelankan suaramu. Dengarlah, mengapa engkau bias begitu besar? Begitu kuat, gagah, dan perkasa? Sementara diriku. ah. begitu kecil, lemah dan tak berdaya. Apa sesungguhnya yang membuat kita begitu berbeda, wahai ombak besar?"
Ombak besar pun menjawab, "Sahabatku, kamu menganggap dirimu sendiri kecil dan tidak berdaya, sementara kamu menganggap aku begitu hebat dan luar biasa, anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti jati dirimu yang sebenarnya, hakikat dirimu sendiri". "Jati diri? Hakikat diri? Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu aku ini apa?" Tanya ombak kecil, "Tolong jelaskan, aku semakin bingung dan tidak mengerti."

Ombak besar meneruskan, "Memang di antara kita terasa berbeda tetapi sebenarnya jati diri kita adalah sama, kamu bukan ombak kecil, aku pun juga bukan ombak besar. Ombak besar dan ombak kecil adalah sifat kita yang sementara. Jati diri kita yang sejati sama, kita adalah air. Bila kamumenyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi, kamu adalah air, setiap waktu kamu bias menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat gagah dan perkasa." Mendengar kata-kata bijak sang ombak besar, mendadak timbul kesadaran dalam diri ombak kecil. "Ya, benar, aku bukan ombak kecil. Jati diriku adalah
air, tidak perlu aku berkecil hati dan menderita."

Dan, sejak saat itu, si ombak kecil pun menyadari dan menemukan potensi dirinya yang maha dahsyat. Dengan ketekunan dan keuletannya, ia berhasil menemukan cara-cara untuk menjadikan dirinya semakin besar, kuat, dan perkasa, sebagaimana sahabatnya yang dulu dianggapnya besar. Akhirnya, mereka hidup bersama dalam keharmonisan alam. Ada kalanya yang satu lebih besar dan yang lain kecil. Kadang yang satu lebih kuat dan yang lain lemah. Begitulah, mereka menikmati siklus kehidupan dengan penuh hikmat dan
kesadaran. Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi sulit yang kita hadapi, yang sesungguhnya itu hanyalah pernak-pernik atau tahapan dalam perjalanan kehidupan. Sering kali kita memvonis keadaan itu sebagai suratan takdir, lalu muncullah mitos-mitos: aku tidak beruntung, nasibku jelek, aku orang gagal, dan lebih parah lagi menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk "ketidakadilan" Tuhan.
Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Karena sesungguhnya kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu, jika orang lain bisa sukses, kita pun juga bisa sukses! Kesadaran tentang jati diri bila telah mampu kita temukan, maka di dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh gairah sedahsyat ombak besar di samudra nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental yang optimis aktif, dan siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan. "Jati diri kita adalah sama-sama manusia! Tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Jika orang lain bisa sukses, kita pun bisa sukses!"

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.