Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Satu suara penentu Masa Depan bersama

Hari ini tanggal 03 Agustus 2010 adalah hari penting untuk seluruh masyarakat daerah Sulawesi Utara. Karena hari ini akan diadakan pemungutan suara untuk memilih Kepala Daerah, Gubernur, dan Walikota atau Bupati di beberapa daerah Kota dan Kabupaten. Tak ketinggalan tentu di lingkungan tempat tinggal saya, Manado. Akh... akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga kota. Kurang tahu juga yang ditunggu apanya. Ada yang menunggu bagaimana nasib calon jagoannya, ada yang menunggu sodaranya kepilih atau nggak, ada yang nunggu sisa-sisa baliho untuk jadi "pampele" panas sinar matahari di rumah, and so on.

Tapi tidak sedikit juga yang nunggu "Serangan Fajar", baik itu duit, sembako, voucher pulsa gratis, janji masuk PNS, dan janji-janji lain yang banyak berseliweran di masa-masa kampanye kemarin. Jujur aja beberapa hari yang lalu kami sekeluarga dijanjikan bakal dikasih duit Rp. 150.000,- asal coblos nama kandidat mereka. Ya... bicara suara hati sendiri sih memang mau ideal, tapi kalo memang ada duitnya ya kenapa tidak? kan cuma nusuk paku doang... iya nggak? But, setelah tiba harinya, eh ternyata tuh duit tidak muncul malah yang janjiin juga cuma mesam-mesem ndak jelas... Entah memang duitnya yang tidak ada atau justru duitnya nyangkut di kantongnya... (buat yang berjanji dan baca ini, jangan tersinggung ya... siapa suruh situ janji...!)

Sementara itu kalo baca di Manado Post hari ini (3/8), duit, sembako, dan voucher serta berbagai bentuk serangan fajar lainnya adalah bentuk pelanggaran Pemilu. Kalo bicara aturannya memang jelas itu pelanggaran kan tapi kenyataannya di lapangan memang tetap ada kok yang kayak gitu-gitu. Belum lagi bentuk kampanye hitam yang nyebar via sms, kabar burung, kabar pasti, dan lainnya yang cepat menular mengalahkan cepatnya beredar video panas "mirip" ariel, luna, dan cut tari, pada jadi berita basi di kalangan masyarakat awam.

Alhasil di bilik TPS saya menatap lembaran surat suara yang terbuka lebar... eh mereka pada senyum semua... tidak ada satu pun foto calon yang jelek (tapi ada yang ngeblur juga sih..). Setelah melihat secara seksama, saya kemudian mengambil paku yang sudah disediakan hendak mencoblos. Tapi belakangan saya justru tertarik sama pakunya (nah lho... kok jadi paku ya?) yang terikat pada seutas benang. Pertanyaan yang muncul untuk saya adalah "Kenapa harus pake paku ya?" kemarin udah diganti pake spidol, eh sekarang balik lagi ke paku.


Para calon sadar apa tidak ya kalo wajah mereka, mulai dari dahi sampe ke dagu, badannya juga , jadi sasaran banyak orang untuk ditusuk. Kenapa mau ya mereka foto-foto mereka ditusuk-tusuk kayak gitu. Coba kalo ditusuk beneran, mana mau mereka. Sebenarnya kalo mereka mau sedikit berpikir, kena tusukan itu sakit lho, udah gitu kalo jadi mereka harus menjalankan tugas penting yang diamanatkan para penusuk. Kira-kira mereka siap atau nggak kayak gitu, atau malah balas dendam dangan malas ngantor, ambil keputusan seenaknya, korupsi anggaran pembangunan, atau malah seenaknya nyetir kendaraan pembangunan sampe-sampe nggak tiba di tujuan sesuai yang mereka janjikan.

Ah itu urusan mereka kaleee yang penting saya sudah ikut nyoblos, dan yang saya pilih adalah.... (eits rahasia dong). Urusan saya sekarang adalah menguji apakah orang yang saya "tikam" matanya akan melihat kepentingan dan kebutuhan saya di lima tahun yang akan datang. Saya sih mendoakan agar beliau-beliau tidak mengecewakan saya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.