Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Balada Nasi Kuning

“Nanti mau makan siang dimana?” tanya teman kantor saya. Sambil pura-pura mikir. “Belum tahu. Masih jam sepuluh ini.”
“Ok.”

Sebenar-benarnya sih saya memang nggak tahu mau makan siang dimana. Apa pasal? Karena saya nggak bawa uang. Saya juga nggak bisa ambil uang di ATM karena uang di rekening saya juga habis. Di dompet mungkin tinggal beberapa lembar ribuan saja.
Melirik kalender, saya cuma meringis, soalnya hari gajian masih dua minggu ke depan.

Lalu komat-kamit saya ngomong sendiri. Tuhan, saya nggak tahu nih mau makan siang apa. Memang biasanya saya pemilih ya, Tuhan? Maunya yang enak-enak aja ya? Ayam penyet Bu Kris.., ayam bakarnya Prima Rasa, Mie UP di Nginden (eh kalo ini mah ga buka waktu
siang ya?). Tapi kali ini apa aja deh… yang penting bisa dimakan.

Tiba-tiba saja ingat yang tertulis di 1 Timotius 6:8: Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dulu saya sering baca kata-kata ini karena terpampang di balik pintu teman kost saya. Dan kamarnya teman kost saya ini cukup sering saya tandangi, jadi setiap kali melihat saldo di buku rekening yang mulai menipis, saya ingat kembali kata-kata itu. Seringnya kan saya merasa nggak puas dengan apa yang sudah saya punyai. Asal ada mobil untuk antar saya
jalan-jalan, cukuplah. Asal ada uang untuk beli baju-baju demi mengikuti mode, cukuplah. Asal ada tas yang warnanya senada dengan sepatu, cukuplah. Kalau nggak ada itu semua, ya… NGGAK CUKUP!

Siang itu, saya betul-betul nggak tahu mau makan apa. Saya malah mikir untuk mampir ke mini market-nya kantor untuk beli mie instan. Kan murah tuh, cuma seribu perak, perut kenyang! Tapi, belum sempat saya ngibrit ke mini market, saya dapat telepon dari teman kantor.

Untuk informasi saja, saya ini bekerja di salah satu universitas swasta di kota tempat tinggal saya. Siang itu, teman saya menelepon untuk memberitahu bahwa saya dapat satu kotak
NASI KUNING dari lantai 9. Lantai 9 itu tempat ngendonnya Rektor dan wakil-wakilnya. Reaksi pertama saya: mata membelalak, mulut melongo, tapi air liur mulai menetes, kemudian mulut saya mengeluarkan kata-kata: Hah?? Nggak salah?? Ternyata eh ternyata Wakil
Rektor II baru saja ulang tahun. Dulu, sebelum beliau menjabat sebagai wakil Rektor, saya memang pernah bekerja satu tim dengan beliau. Dan saya betul-betul tidak menyangka kalau beliau ingat pegawai kecil kayak saya ini.

Tapi, rasanya kok lebih tepat begini, Tuhan yang sudah atur ini semua. Tuhan yang sudah bisikkan ke telinga beliau sebelum beliau kirim nasi kuning ke kantor saya: Eh, nanti
jangan lupa satu kotak untuk Juleha. Kasihan dia, lagi bingung nanti siang mau makan apa. Jangan lupa juga, sambalnya rada banyakan dikit. Dia kan suka banget sama sambel.

Jadi, makan siang saya pada hari itu bukan sekedar makanan biasa, bukan mie instan yang sehat untuk kantung tapi kurang sehat untuk lambung. Kata siapa Tuhan hanya pikirkan
hal-hal yang besar? Hal-hal yang kecil seperti kebingungan saya untuk makan siang saja Dia pikirkan. Nasi kuning lengkap dengan ayam goreng, mie, sayur-sayuran dan sambal. Pedas pula. Dia sudah kasih lebih dari apa yang saya minta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.