Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Nasib jadi rakyat kecil....

Kira-kira pukul 17.30 wita kemarin sore (5/11), di saat langit tengah mendung mirip langit di dekat gunung merapi, dan saat semua orang sedang berlomba untuk segera tiba di rumah setelah berjibaku dengan pekerjaan, saat itu saya sedang mengantri di sebuah SPBU untuk sekedar membeli BBM Premium. Antriannya lumayan panjang dari selang pompanya dan sudah tidak karuan lagi wajah para pengantri. Termasuk saya yang ketika itu sudah mulai keroncongan di perut karena minta diisi.

Memang tidak mudah untuk tersenyum jika anda mengantri premium di sebuah SPBU dan berada di jarak kira-kira 15 meter jauhnya dari selang pompa yang juga sedang berpindah-pindah dari tangki motor yang satu ke tangki motor yang lain. Belum lagi ditambah dengan pekat asap mobil-mobil yang ikut ngantri di jalur sebelah tapi sopirnya ogah mematikan mesin. Mungkin lagi pasang AC ya makanya tega membiarkan asap knlapot mobilnya menerjang wajah para pengemudi motor. Ingin berteriak tapi apa gunanya, ingin melanjutkan perjalanannya tapi mungkin tidak akan jauh lagi karena tangki bensin motor sudah hampir kosong. Apa dayaku selain bersabar menanti giliran.



Sembari menunggu, saya sibuk membaca spanduk dan pamflet yang menempel di sekitar kompleks SPBU. Mulai dari himbauan untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi hingga ke Hadiah Handphone merk Bla******y kepada para pengguna BBM Pertamax. Menarik juga tawaran ini, mungkin saya juga harus pake Pertamax, siapa tahu bisa dapat HP itu, lumayan juga sih. Lagi asik-asik menghayal tuh HP eh tiba-tiba sebuah mobil berplat merah muncul di samping ikutan antri. Mobilnya lumayan keren juga, kayaknya milik pejabat Pemkot yang bergaji di atas rata-rata.Tapi yang mengherankan kenapa dia ngantri di jalur Premium ya... kan duitnya cukup buat beli Pertamax.

Ah ternyata tidak semua orang berduit juga mau pake Pertamax. Apalagi kita-kita orang kecil yang gajinya pas-pasan buat makan sebulan, mana mampu beli Pertamax. Namun sayangnya kenapa sekarang justru Premium jadi langka ya di manado. Kalo hanya karena dalam rangka me"lariskan" Pertamax terus Premium jatahnya dikurangi, sama saja lebih baik membunuh orang-orang yang berekonomi rata-rata. Bukankah premium tidak hanya dipakai oleh orang-orang kaya dan berduit? masih lebih banyak orang-orang yang mungkin berekonomi rendah atau pas-pasan yang butuh Premium juga. Coba hitung di Indonesia ini, lebih banyak mana? orang kaya atau orang miskin? Mungkin terkesan asal ngomong tapi ini cara yang paling realistis untuk melihat apakah sudah pantas kebijakan penggunaan BBM Pertamax dengan harga yang lebih dari 2 kali lipat atau tetap di Premium.

Kembali ke kisah antrian tadi, akhirnya pihak SPBU mengambil kebijakan yang tepat di saat-saat menegangkan ini. Mereka mengkhususkan satu Pompa untuk sepeda motor sehingga meminimalisir jumlah antrian. Upaya ini disambut dengan senyum ceria dan sorak gembira para pengendara sepeda motor yang mulai pegel kakinya gara-gara mengantri. Bagaimana dengan besok atau lusa ya? masihkah kita ngantri? kalaupun masih, ya diterima aja karena ini sudah nasib jadi rakyat kecil....

2 komentar:

  1. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog. The blog is genuinely impressive in all aspects.
    mgmdomino

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung dan memberikan komentar di blog saya. Tuhan Yesus memberkati anda.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.