Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Teringat Mama

Perjalanan pulang dari kantor, aku mendengar paduan suara menyanyikan alunan lagu yang begitu harmonis dari sebuah siaran radio. Anganku melayang kembali ke masa lalu  ketika Mama masih ada di tengah-tengah kami. Sementara radio itu masih memperdengarkan lagu-lagu yang begitu menyentuh, kepada seorang rekan yang kebetulan duduk disebelahku, kuceritakan tentang Mama.

Mama, seorang pemimpin (dirigen) paduan suara untuk kaum ibu di gerejanya (it was my church too, but I still love 'till now). Setiap kamis sore ia selalu menyempatkan waktu untuk berlatih (dan melatih) tim paduan suara. Dia begitu mencintai kegiatan ini, tak peduli apa yang terjadi, sebisa mungkin dia tidak boleh melewatkannya. She loves singing a lot. Mungkin hal ini pula yang menurun kepada kami anak serta cucunya. Hampir semua kami suka menyanyi, lagu-lagu choir, lagu dan musik klasik, serta sejenisnya.

Meski Mama (hanya) bergereja di sebuah gereja suku yang begitu kental dengan ibadah liturgisnya (yang “sometimes” seems hanyalah formalitas), namun jalinan hubungannya dengan Tuhan bukanlah sebagai formalitas belaka. Ia begitu mencintai Tuhan sebagai Pribadi yang senantiasa ia andalkan.

Setiap pagi sekitar jam 3.00 dini hari, ia sudah bangun untuk pergi ke Pasarbaru Bekasi, berbelanja segala keperluan yang akan ia jual di pasar kecil di Perumnas 2 Bekasi. Sebelum ia bersiap diri, ia selalu menyempatkan untuk sejenak duduk berdiam dihadapan Tuhan, membaca janji-janjiNya dalam FirmanNya bagi kehidupan pribadi, suami, anak-anak, dan keluarga besarnya. Kemudian dengan hatinya yang tulus, ia berdoa untuk kekasih hatinya yang telah hidup bersamanya selama hampir 50 tahun, Bapak kami. Tak pernah lupa, ia pun mendoakan kami anak-anaknya. Satu per satu nama kami disebutkannya. Tak ketinggalan cucu serta cicitnya, pun ia doakan …

Salah satu doa yang ia sampaikan pada Tuhan adalah bahwa jika suatu hari nanti ia dipanggil kembali ke rumah Tuhan, ia ingin kepergiannya tidak akan menimbulkan kerepotan bagi kami anak-anaknya… (Kami tahu tentang ini dari seorang tetangga, tentunya juga seorang ibu yang dekat dengan Mama).
Mama… kenapa sih berdoanya harus seperti itu?
Tapi permintaannya begitu tulus, karena ia sangat mengasihi kami anak-anaknya…

Terbukti memang.

Suatu malam ia mengeluh sakit. Ia hanya sempat pergi ke bidan yg praktek tepat di sebelah rumah kami untuk memeriksakan sakit pada perutnya, mungkin sakit maag katanya. Namun ternyata, itu bukan penyakit biasa. Esoknya, Mama sekarat di atas tempat tidurnya hingga kemudian kami bawa ke RS Mitra Bekasi pada sore hari. Ia pun dirawat intensif di Ruang ICU. Hanya berselang satu hari sejak ia sakit, ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kami bahkan tidak sempat tahu pasti sakit apa yang ia derita. Hari itu, 12 Oktober 2006, sekitar jam 12.30 siang kami harus merelakan ia pergi. Masih terasa betul kepedihan itu. Seakan ada beban yang begitu menyesakkan di dada ini! Tanpa sadar aku pun berteriak, sangat keras. Aku tak sanggup melepas kepergian Mama.

Tapi Tuhan lebih mencintai dia dan inilah bukti cintaNya kepada Mama. Tuhan menjawab doanya. Belum sempat kami merasakan bagaimana merawat Mama saat dalam kesakitannya… ia sudah pergi ke rumahnya yang sejati…  Mama memang benar-benar tidak ingin merepotkan kami untuk kepergiannya. Tidak lama sebelum ia pergi, entah mengapa, ia masih sempat membenahi keadaan rumah. Ia menyewa tukang untuk mengecat dinding-dinding rumah yang sudah begitu kusam. Biasanya ia kompromi dengan kami untuk hal-hal seperti ini dan kami akan kumpul uang untuk membiayainya. Tapi, terakhir ini tidak. Ia mengeluarkan uangnya sendiri untuk kebutuhan cat serta sewa tukang itu, bahkan untuk repot-repot membenahi rumah. Akh, Mama … Seakan ia tahu bahwa ia akan segera pergi, bahwa orang akan banyak berdatangan ke rumah, mengunjunginya untuk yang terakhir kali. Ia pastikan bahwa rumah ada dalam keadaan rapi saat tamu berdatangan. Akh, mama …

Tuhan tidak tanggung-tanggung menjawab doa Mama. Satu bulan sebelum kepergian Mama, ketika ia masih hidup, kami mengikutsertakan Mama ke dalam program asuransi (life insurance), tanpa terpikir sedikitpun tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mama setuju. Ia pun diperiksa oleh dokter yang berkompeten. Tidak didapati ada penyakit kronis pada Mama. Sampai-sampai, dokter pun heran, mengapa di usia Mama yang sudah cukup tua, 68 tahun, Mama masih sehat dan bugar. Mungkin kebiasaannya beraktivitas setiap hari yang membuatnya selalu sehat. Maka, kami pun membayarkan uang premi asuransi untuk bulan pertama sebesar 400 ribu rupiah.Hanya satu bulan setelahnya, Mama sakit dan pergi untuk selamanya. Tanpa kesulitan, pihak asuransi pun membayarkan uang pertanggungan sesuai polis sebesar 100 juta rupiah kepada keluarga.

Mama tidak main-main dengan doanya. Ia sungguh-sungguh mengasihi kami dan tak ingin kepergiannya menjadi beban bagi kami di kemudian hari. Uang pertanggungan itu pun dapat dipakai untuk pesta kepergian Mama.

Yap, kami orang batak. Kepergian Mama di usianya yang sudah 68 tahun, dengan anak-anak yang semuanya sudah menikah, sudah memiliki 32 orang cucu serta seorang cicit (waktu itu) harus dilepas dengan sebuah pesta yang meriah. Dalam adat kami, disebut bahwa Mama sudah SAUR MATUA. Ia pergi dalam kebanggaan hidup. Pesta ini berlangsung selama empat hari bertempat di halaman rumah. Totalnya sekitar 3000 orang datang melayat Mama dari hari Rabu hingga pada hari Minggu saat ia dikebumikan. Semua itu memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi, itulah Mama… bahkan untuk hal ini pun ia minta kepada Tuhan, sang andalannya…

Ada satu hal yang waktu lalu tidak dapat kami mengerti dari satu tindakan mama, yakni ia lebih memilih pergi pulang kampung ke Samosir -seorang diri- dari pada menghadiri pernikahan cucunya, tepatnya pada bulan Juli 2006 lalu. Padahal restu & keberadaannya sangat penting untuk kami. Namun mama memaksa untuk pulang ke kampung halamannya, menikmati beberapa hari di sana dan yang kami heran, malah mama mendatangi sanak saudara serta teman-teman yang sudah sangat lama tak pernah ia jumpai. Tentu menjadi keheranan juga bagi orang-orang yang ia kunjungi, "tumben"? Alasan mama waktu itu... "yah, siapa tau nanti kita ngga bisa ketemu lagi". Ini pun kami ketahui dari orang-orang yang ia kunjungi yang kemudian hadir di hari pemakaman mama. Akh... mama.... seakan mengerti akan isi hati Tuhan bahwa engkau akan segera dipanggil, engkau rela menerima protes keras kami dan tetap melangkahkan kakimu ke kampung halaman yang memang kemudian tak dapat lagi kau kunjungi. Maafkan kami yang saat itu tak dapat mengerti hatimu, mama... Sungguh nyata, Tuhan mengasihimu dan tau betul apa yang kau inginkan sebelum kepergianmu ke rumahNya yang baka.

Mama… ia begitu mengasihi Bapak, mengasihi kami anak-anak serta cucu dan cicitnya. Ia tahu betul bagaimana mempersiapkan kepergiannya. Ia hanya “menabung” semua itu dalam keheningan saat berada di hadapan Bapa pada pagi yang teduh setiap harinya.

Tapi sayangnya, kami tidak sungguh-sungguh mengungkapkan rasa terima kasih dan sayang kami kepadanya ketika ia masih berada diantara kami… Saat ia masih dapat berdialog, saat ia masih dapat dipeluk, saat ia masih dapat menikmati kehadiran cucu cicitnya di rumah… Kami sia-siakan waktu yang sesungguhnya dapat kami manfaatkan untuk dekat dengannya… Maafkan kami Mama…

Kini kami merasakan buah dari jerih payahnya… kehidupan yang lebih baik yang dapat kami kecap dari tahun-tahun perjuangan hidupnya…

Terima kasih Mama… Terima kasih Tuhan, telah memberikan kepadaku seorang Mama yang begitu sempurna untukku! Ia memang pernah punya kesalahan, pernah punya dosa di masa lalu kami, tapi… semuanya “sempurna” untuk (kebaikan) kami!

I miss you a lot, Mom!! Thanks for giving me the love that not everyone can have. I love you!!
Written while I’m listeing “BUNDA” by Melly Guslaw (Thanks Melly for the great song! Kisah gue bangggeettt!)

Terima kasih buat Ibu Lastri (http://www.facebook.com/lastri.lumbanraja) atas tulisannya yang sangat inspiratif. 

2 komentar:

  1. Ceyfert... terima kasih sudah mau share ceritaku di blog ini... (pake foto ini lagi... hehe...) btw, semoga jd inspirasi buat para pembacanya. GBU

    BalasHapus
  2. Ok d kakak.... jangan lupa follow balik neh di blog ini....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.