Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Sepenggal cerita sedih di malam Lebaran

Kebetulan memang untuk tahun ini, 2011, Lebarannya tertunda satu hari untuk dirayakan oleh sebagian besar umat muslim. Meskipun tidak mengerti cara menentukannya, tapi saya heran juga kenapa lebaran di indonesia bisa tertunda. Tapi sudahlah... kan sudah ada yang mengaturnya juga..... Kita-kita sih ikut saja. Nah ada sedikit cerita yang mungkin penting untuk kita renungkan. Perihal Lebaran di kota Manado, merupakan salah satu hari raya yang juga mulai dirayakan dengan semarak akhir-akhir ini. Malah perayaannya kini ikut melibatkan warga kota yang non-muslim. Apalagi bila sudah tiba di akhir bulan puasa dan menjelang hari raya dan lebih tepatnya pada malam takbiran.

Beberapa tahun yang lalu, saya sehubungan dengan pekerjaan saya, juga ikut dalam keramaian ini. Ketika tiba di hari terakhir di bulan puasa, saya juga ikut sibuk dalam acara Takbiran di kota manado bersama panitia penyelenggara. Asik-asik saja sih, soalnya ramai sekali hingga memenuhi seluruh kota. Tahun ini sedikit berbeda karena kebetulan saya tidak ikutan alias lagi istirahat dari acara seperti ini. Maka saya bisa libur total bersama keluarga. Dan pada tanggal 30 Agustus 2011 kemarin saya menyempatkan jalan-jalan bersama keluarga untuk sekedar cari makan di luar rumah karena sedang libur. Saya sendiri lupa kalau malam itu baru akan berlangsung malam takbiran menyambut hari raya idul fitri. Dan benar saja ketika kami selesai makan, kami berpapasan dengan rombongan pawai takbiran yang melintas di sepanjang jalan Piere Tendean atau lebih dikenal dengan jalan boulevard.


Wuih banyak juga peserta yang ikut, meskipun tidak sebanyak peserta di tahun-tahun sebelumnya. Kata mereka ada beberapa rombongan yang sudah pawai duluan di malam sebelumnya. Mungkin karena terlanjur sudah bersiap, tapi lebarannya digeser. Tapi tetap saja peserta pawai takbiran memenuhi jalan boulevard. Di tengah hiruk pikuk suasana dan suara keramaian di luar mobil, istri saya dengan santai bicara "Kasiang kang dorang (Kasihan ya mereka)...."
"Kiapa kong bilang kasiang (Kenapa kasihan)....?" jawab saya agak penasaran.
"Iyo no.... karena so satu bulan terkekang, serta so abis puasa jadi liar samua rupa kuda baru talapas (Ya iya.... karena sudah 1 bulan menahan diri, selesai puasa semua jadi liar seperti kuda terlepas)...." ucapnya dengan santai sambil menunjuk ke kerumunan orang.

Terlihat di luar ada banyak orang yang sedang bergoyang-goyang kayak orang mabuk sambil terdengar suara musik dari mobil yang baru selesai ikut pawai takbiran. Belum lagi para peserta pawai yang lain masih melintas di sekitar kami dengan suara musik yang amat berisik. Amat berisik hingga kami tidak tahu itu bunyi musik, mesin kendaraan, atau bunyi yang keluar dari mulut peserta yang duduk di dalam mobil.... Masih lagi ditambah dengan dentuman dan letusan kembang api ikut menambah keramaian suasana. Begitu padat dan begitu semrawut, sehingga kendaraan seakan merayap.

Saya jadi ingat sebuah iklan dari salah satu provider GSM yang menyebutkan kalau lebaran itu bukan untuk pamer tapi untuk merayakan kemenangan sambil bersilahturahmi dan saling bermaafan. Tapi apa yang kami lihat malam itu sama sekali beda. Lebih mirip suasana pasar malam. Saya yakin kalau bukan ini inti dari sebuah pawai takbiran yang sebenarnya. Tapi karena ditafsirkan beda makanya kesan akhirnya juga beda. Belum lagi dengan peserta yang kurang paham dengan apa yang hendak dicapai dari acara ini, atau mungkin juga banyak peserta yang ikut bukan dari kalangan muslim makanya jadi ajang ekspresi pandangan masing-masing dan bukan takbiran lagi.

Tapi ya sudahlah.... mungkin memang seperti ini cara menyambut datangnya idul fitri di era teknologi seperti sekarang.... Atau kerohanian yang justru larut dalam kecanggihan teknologi.....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.