Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Kisah 3 Buku Ajaib

Konon kabarnya di suatu masa, ada seorang penulis dengan bakat yang luar biasa. Sudah banyak buku dan cerita yang dia tulis sebagai hasil dari buah pikirannya. Di seluruh negeri dia telah dikenal di semua kalangan mulai dari para pejabat hingga ke rakyat biasa. Sekolah-sekolah banyak menggunakan buku karangannya untuk jadi bahan referensi pelajaran. Oleh karenanya, dia kemudian semakin dikenal sebagai orang yang pintar dan sangat bersahaja.

Suatu waktu kemudian dia mendapatkan inspirasi untuk mengangkat tema "PENDERITAAN MANUSIA" dalam tulisan berikutnya. Dia pun mulai menuangkan pikirannya lewat goresan pena di atas sebuah kertas. Seperti biasa, ketika dia sudah larut dalam kesibukan ini, tidak ada siapa pun yang bisa menemuinya karena dia selalu mengurung diri di rumahnya dari pagi hingga malam. Banyak orang malah mengira dia tidak berada di rumah karena sedang bepergian.

Dalam waktu beberapa bulan materi bukunya sudah siap mulai dari awal hingga ke bagian akhir. Dia terlihat sangat puas dengan hasil pekerjaannya beberapa bulan terakhir. Dia sendiri yakin kalau bukunya kali ini akan menjadi "best seller" di antara para penggemar buku. Bahkan beberapa bagian di dalam buku tersebut sudah pasti kembali akan jadi acuan bagi para pelajar untuk memahami sisi lain kehidupan manusia.

Kini saatnya untuk si penulis mempersiapkan dana dalam rangka penerbitan buku tersebut. Dia mulai mengumpulkan dana dari tabungannya, menghubungi beberapa dermawan yang siap menjadi donatur, meminta bantuan pemerintah, dan tak ketinggalan menghubungi penerbit supaya mendapatkan harga khusus. Butuh waktu kira-kira 1 tahun baginya hingga semua dana bisa terkumpul dan buku pun siap cetak. Setelah dihitung kembali dengan cermat maka dia siap membawa bahan-bahannya ke penerbit.

Pada malam terakhir sebelum buku dan dana yang terkumpul tadi berpindah tangan ke penerbit, terjadi sesuatu yang luar biasa di kampung tempat si penulis tinggal. Menjelang fajar menyingsing, gunung satu-satunya di provinsi itu meletus dan memuntahkan lahar panas ke daerah pemukiman penduduk. Awan panas juga menerjang rumah-rumah penduduk tanpa ampun. Beberapa orang atau keluarga harus menjadi korban dari datangnya bencana. Dan tiada ampun juga kantor penerbit yang akan dikunjunginya besok ikut hancur lebur.

Melihat keadaan itu, si penulis berpikir bukunya akan tertunda untuk bisa diterbitkan. Akhirnya semua dana yang dia kumpulkan untuk mencetak bukunya, dia belikan bahan makanan, pakaian, obat-obatan, dan keperluan lain untuk disumbangkan kepada para korban bencana gunung meletus. Dia merasa wajib menolong karena sebagian korban di tempat pengungsian adalah saudara-saudaranya. Alhasil semua dana yang ada dia habiskan untuk menolong para korban bencana itu.

Setelah semua kekacauan berlalu, gunung api kembali tenang, dan para korban sudah kembali dari pengungsian, si penulis kembali teringat bukunya. Ah, aku tidak boleh menyerah, kini saatnya kembali bekerja mengumpulkan uang untuk menerbitkan bukunya yang sempat tertunda. Berhari-hari dan berbulan-bulan dia bergerak aktif untuk mengumpulkan dana dari semua sumber yang ada. Bahkan sawah miliknya ikut dijual untuk menutupi kekurangan yang ada. Dan setahun kemudian dana ini kembali sudah siap, berarti dia harus bersiap menghubungi penerbit lain yang siap untuk mencetak bukunya tersebut.

Si penulis menuju kota lain yang terdekat untuk bisa mendapatkan penerbit baru. Tapi sayang ketika dia ada di kota tersebut dia mendengar kalau keluarganya di kampung sedang mengalami masalah. Ada suatu wabah penyakit yang menyerang desa mereka hingga memakan korban jiwa. Beberapa anak dan orang dewasa tewas oleh penyakit ini dalam waktu yang relatif singkat. Pihak pemerintah desa menghubungi si penulis yang kebetulan berada di kota untuk membantu mencarikan obat yang dibutuhkan para pasien, karena Rumah Sakit mulai kewalahan dan kekurangan stok obat.

Dengan sedikit berat hati, penulis itu pun membeli bahan-bahan obat yang dipesan. Hampir seluruh uangnya habis untuk membeli obat-obatan tadi. Dan ini pun menunda rencananya untuk bertemu pihak penerbit. Dia memutuskan untuk pulang kampung membawa dulu obat sekalian mengambil uang pengganti biaya obat ini. Tapi sungguh sial, ternyata si Kepala Desa ikut menjadi korban terjangkitnya penyakit itu dan meninggal dalam perawatan, maka uang pengganti tidak bisa dicairkan.

Rencana penerbitan buku kembali gagal. Tapi si penulis pantang menyerah, karena dia yakin suatu waktu dia pasti akan berhasil menerbitkan bukunya. Sayang sungguh sayang, pada kesempatan ketiga, dia kembali menemui kegagalan karena dana penerbitan bukunya harus terpakai  untuk pengobatan adiknya yang mengalami kecelakaan ketika bekerja. 

Setelah betahun-tahun berlalu dari semua kejadian itu, para cendekiawan di negara mereka merasa takjub membaca sebuah buku yang sangat luar biasa isinya. Sangat menggugah hati dan memotivasi diri untuk mau menolong sesama. Buku itu berjudul "Mengatasi Penderitaan Manusia Jilid 4". Ternyata si penulis akhirnya berhasil menerbitkan buku karangannya sesuai cita-cita semula.

Ketika ada pertanyaan padanya mengapa buku itu sudah masuk ke Jilid 4, sedangkan mereka belum pernah membaca 3 jilid sebelumnya, maka penulis muda itu menjawab :
"3 edisi sebelumnya telah saya terbitkan dalam bentuk yang tidak tercetak. Tapi ada tertulis pada hati korban gunung meletus, korban wabah penyakit, dan keluarga adikku yang saat ini cacat seumur hidup. Saya belajar satu hal penting bahwa untuk mengatasi penderitaan yang dialami manusia, diperlukan tindakan yang nyata dan tidak hanya dalam bentuk pemikiran, kata-kata, atau tulisan belaka. Kita perlu bertindak agar penderitaan teratasi....."

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.