Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Menanti Kemerdekaan (Renungan 17-an)

Di tahun ke 67 perayaan HUT Kemerdekaan Republik  ini, ternyata masih banyak warga yang jadi warga negara asing di tengah bangsanya sendiri. Menjadi yang tersisih di tempat yang memberikan naungan dan nafkah sejak kakek dan neneknya tinggal di tempat itu. Menjadi yang tertinggal di tempat kelahirannya sendiri, sehingga dia sendiri lupa kalau dia termasuk rakyat negeri yang dikatakan mengejar Keadilan Sosial bagi seluruh masyarakat.

Lihat saja di Republik ini masih saja mengaitkan isu Agama dengan berbagai trik-trik dalam meraih kepentingan pribadi atau golongan. Beberapa waktu lalu contohnya, dimana peristiwa memilukan kembali terjadi di negeri ini. Peristiswa yang selalu terjadi seakan tidak ada habisnya. Bahkan selalu saja mencoreng nilai-nilai toleransi umat beragama. Berita mengenaskan saya baca di www.jawaban.com tentang penutupan tempat beribadah karena tidak ada IMB


Entah kenapa, sudah menjadi tren di Indonesia mungkin kalau setiap tahun ada saja kejadian serupa. Seakan-akan semua pihak tidak pernah mau belajar dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya pemandangan yang sama pun kembali mewarnai pemberitaan di berbagai media. Gambar para umat yang harus "ditindas" kebebasan beribadahnya hanya gara-gara isu IMB dari sebuah Gereja. Buat saya pribadi apa kendala bagi terbitnya sebuah IMB bagi gereja yang tidak pernah menerima keberatan atau protes.

Apalagi bila Forum Kerukunan Umat Beragama yang tidak merekomendasi keluarnya IMB, sebenarnya menandakan kalau sudah tidak dibutuhkannya Forum Tersebut. Buat apa ada Forum seperti ini kalau tidak bisa membantu Umat Beragama untuk menjalankan kewajibannya untuk beribadah. Bahkan sekarang muncul kesan kalau Forum ini juga turut mendukung terjadinya aksi-aksi penutupan Tempat Ibadah.

Di sisi lain muncul keraguan bagi masyarakat ketika Pemerintah yang adalah Penguasa telah mengeluarkan pernyataan tegas, bahwa penutupan tempat Ibadah itu tidak dapat dibenarkan. Tapi apa hasilnya? tetap saja kasus yang memiriskan hati ini terjadi. Siapa lagi yang harus bersuara baru bisa memberikan dampak? Haruskah Tuhan turun tangan lagi? kalau memang itu yang dinanti ya apa mau dikata.

Oh Indonesia, sampai kapan kita akan benar-benar merdeka?


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.