Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

7 Alasan kesetiaan wanita dalam cintanya

PERHATIAN !
Artikel ini ditulis tidak hanya untuk wanita. Tetapi lebih bertujuan agar pria dan wanita, secara bersama-sama, sadar kekuatan wanita dalam cinta dan akan memeliharanya bersama-sama.

Beberapa video kesaksian dan hasil konseling menunjukkan bahwa wanita amat sering disakiti dalam kehidupan percintaan. Disakiti teman, disakiti pacar, atau disakiti suami. Namun herannya, ada banyak wanita dengan pengalaman yang menyakitkan ini, justru memilih bertahan dan setia dalam hubungan cinta kasih bersama dengan orang yang dicintainya. Tak heran jika ada kesaksian yang menunjukkan betapa seorang ibu yang berdoa puluhan tahun hanya untuk meminta agar suaminya berhenti melakukan kekerasan dalam rumah, meninggalkan kehidupan jahat di luar rumah, atau sekedar ingin agar suaminya rajin dan aktif beribadah. Bayangkan saja, selama belasan hingga puluhan tahun menahan penderitaan dari orang yang sangat dicintainya. 

Sekalipun geram dan agak heran, saya ingin mencari jawaban kenapa wanita seperti itu. Bak langit dan bumi, pria cenderung lebih cepat emosi, marah, atau pergi meninggalkan orang yang dia cintai saat diketahui kalau dia disakiti atau dikhianati. Akhirnya seseorang mengingatkan beberapa hal berikut ini yang bisa sedikit menjawab misteri kesetiaan wanita. Mungkin ini hasil dari sharing, konseling, atau kesaksian dari para wanita yang luar biasa tersebut.


Ada 7 hal yang disampaikan, yaitu :

1. Karena Allah kita adalah kasih
"Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (I Yoh. 4 : 16)

Ternyata para wanita, terlebih wanita kristen, sengat menghargai keberadaan Allah dalam hidupnya. Dia tahu benar bahwa teladan kasih dari Allah yang telah dia rasakan terlebih dahulu merupakan hal luar biasa yang ingin terus dia jaga. Karena dengan dengan berada dalam kasih (kepada siapapun terlebih pada Allah dan pasangannya), maka dia juga berada dalam Allah dan Allah dalam dia.

2. Karena ada hukum Tabur-Tuai
"Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu." (Gal. 6 : 7 - 8)

Kalau yang satu ini sebenarnya adalah langkah pencegahan. Rata-rata setiap wanita memiliki mekanisme pertahanan yang amat lemah, maka dia sendiri akan berusaha mencegah agar tidak sampai disakiti. Motivasi ini pun ditambah dengan kata-kata "Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan", menjadikan wanita tidak melakukan hal-hal yang tidak disenangi Allah. Ketakutan akan pembalasan dari Allah juga membentengi keinginannya untuk membalas setiap tindakan orang yang menyakitinya.

3. Karena ingin diperlakukan baik sebagai balasan dari tindakannya
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat. 7 :12)

Ingat ilustrasi Anjing yang masuk ke rumah penuh cermin ? Nah, keinginan wanita untuk mendapatkan feedback positif dari orang, cenderung lebih besar dibanding pria. Hal ini bisa terlihat juga dalam hal penjualan produk, banyak perusahaan menempatkan tenaga wanita untuk menjual produk karena ingin laku alias mendapatkan hasil postif. Wanita memang punya nilai lebih dalam bertingkah laku baik untuk mendapatkan balasan baik. Sementara pria banyak yang terlalu serius, keras, dan tegang. Kita bisa membayangkan respon balik untuk sikap seperti itu. Dalam kesetiaanya, wanita mengharapkan pasangannya sadar bahwa dia masih diperlakukan baik, sehingga akan berubah jadi baik juga, walaupun sebellumnya telah menyakiti si wanita ini. 

4. Karena Tuhan memberi kasih di hati kita.

"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia." (I Yoh. 3 : 1)

Wanita, dalam banyak kasus, selalu menempatkan diri dalam posisi sebagai anak yang dengar-dengaran. Coba perhatikan sekeliling kita, dengan berbagai latar belakang, akan kita jumpai kalau anak perempuan yang kemudian lebih dengar-dengaran kepada orang tuanya. Apalagi jika dia datang dari keluarga baik, terhormat, atau dikenal rohani oleh banyak orang di sekitar. Nah, seorang wanita kristen juga menyadari posisi sebagai anak Allah membuat dia lebih mawas diri atau hati-hati dalam bertingkah laku. Ketika disakiti pun, banyak wanita yang akhirnya berkata pada dirinya "kamu orang kristen... harus sabar dan minta tolong sama Tuhan" atau "jangan permalukan Tuhan! kamu ini anakNya".

5. Karena Tuhan yang memerintahkan demikian
"Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat. 22 : 37 - 40)

Kita semua percaya bahwa perintah untuk tidak menyakiti orang lain selalu diberikan oleh semua agama. Tetapi mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri, mungkin agak rumit. Bayangkan kita harus memberikan kepada orang sesuatu yang sama dengan yang kita berikan kepada diri sendiri. Pria biasaanya agak sulit melakukan hal itu, namun bukan berarti pria tidak atau susah mengasihi orang lain ya... tapi pria biasanya memberikan derajat yang berbeda dalam perlakuan kepada orang lain. Namun, wanita cenderung mampu melakukannya. Malahan ada yang melakukan hal kepada pasangannya lebih dari untuk dirinya sendiri. Luar biasa memang.

6. Karena manusia pada dasarnya tidak sempurna 
"Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (I Kor. 13 : 12)
  
Kesadaran bahwa dirinya juga adalah manusia yang tidak sempurna, membuat wanita amat mudah memaafkan. Kesadaran ini juga berlaku pada pria, namun faktor ego membuat pria membentengi diri untuk memberi maaf dengan mudah. Wanita dalam kesakithatiannya, tetap akan bisa memaafkan orang yang telah menyakitinya, karena dia percaya bahwa dia pun masih sering berbuat salah. Ini butuh kebesaran hati dan kedewasaan jiwa.

7. Karena tidak ada alasan untuk membalas yang jahat dengan yang jahat
"Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!" (Rm. 12 : 17)

Terkait dengan alasan yang ada di poin-poin sebelumnya, maka kebanyakan wanita menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan atas apa pun yang dia alami, walau menyakitkan. Satu lagi yang merupakan kelebihan dari wanita, adalah dia tidak suka menambah-nambah masalah. Bila terus saling membalas, maka pasti tidak akan ada akhirnya. 

***

Selain ketujuh alasan ini, memang masih ada hal-hal lain yang membuat wanita bertahan dalam kesetiaan dan cintanya. Namun 7 hal inilah yang paling sering muncul dari mulut mereka saat ditanyakan alasan kesetiaannya. Dan juga tidak 100% wanita berlaku seperti ini. Ada juga wanita yang justru melakukan khianat atau menyakiti orang lain, terlebih pasangannya.

Bagi pria, jika anda mendapati pasangan anda seperti ini, maka bersyukurlah karena Tuhan telah memberikannya untuk anda. Tetapi ini bukan alasan yang membenarkan atau jaminan para pria untuk menyakiti hati para wanita. Karena di balik kesetiaannya, wanita punya Tuhan yang membackup sikap tersebut. Pria juga harus bersyukur bahwa wanita (dengan kesetiannya) diciptakan untuk mendampinginya. Bayangkan kalau mahluk lain yang jadi pendamping pria, anjing misalnya, sekali disakiti maka dia pasti akan membalas dan menyerang.

Memang ada alasan tertentu ketika pria menyakiti wanita, tetapi masih lebih banyak lagi alasan untuk menyayangi dan mengasihinya. (csi)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.