Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Keluaga Timothy : Oti kena batunya...

Malam itu mungkin akan jadi malam yang takkan bisa dilupakan oleh Oti. Malam yang mengenaskan dan penuh dengan linangan air mata. Betapa tidak, karena malam itu Oti melihat Papa berubah dari aslinya. Memang secara fisik Papa tetap dalam wujud papanya Oti, tapi yang ada di hadapan Oti malam itu benar-benar jauh dari sifat asli Papa.

Biasanya si Papa riang dan senang bergurau dengan Oti serta anggota keluarga yang lain. Tapi malam itu mulai dari Oti, Mama, Mama Via, bahkan Papa Opit kena bagian dari kemarahan Papa yang luar biasa. Pokoknya menakutkan banget, jauh lebih menakutkan dibanding monster-monster yang melawan Power Rangers.

Apa sebabnya ? Yok, simak kisahnya di bawah ini.
----

Malam baru saja dimulai, dan semua anggota keluarga sudah pada ngumpul di ruang keluarga kecuali Papa yang belum juga nongol dari kantor. Mama lagi asyik nonton film di TV yang berjudul "Putih kebiru-biruan (Lebam jilid 2)". Hihihi... judulnya rada seram dan aneh ya? Sementara Mama Via lagi sibuk merapikan Lemari Pakaiannya yang sudah semrawut persis jalanan Boulevard Manado waktu lagi macet. Sementara Papa Opit sedang sibuk dengan ikan cupang-nya yang sedang "dinner". Nah si Oti ngapain?


Oti seperti biasa sedang berolahraga dengan jurus-jurus pedang terbaru yang dia lihat di Film Power Rangers. Berbekal pedang BEN-10 (gak nyambung kan?), Oti mulai naik turun kursi tamu sambil teriak-teriak...
"Ciaaat... ciaaatt... ciaattt..." suara Oti memenuhi ruangan tamu malam itu.
"Oti, bermain jo kwa, mar nda usah pake bataria..." seru Mama dengan suara yang tidak kalah kerasnya.
"Iyo kwa Oti. Nda usah babataria, so saki ni talinga ada ba dengar," disambung sama Mama Via.
"Ciuuuussss? Miaaapaaaa!" jawab Oti singkat sambil melanjutkan aksi seru-seruannya.

Masih kurang puas main sendirian, akhirnya Oti mengeluarkan mainan yang lain. Mulai dari mobil-mobilan, Patung-patung binatang, mainan patung power rangers, hingga ke monster-monsternya sekalianan.
"Hei kamu monster jelek... sini kamu... ta mo ajar pa ngana..."sambil mengangkat kepalan tangan dan bahasa yang mix.
"Huahahaha.... mati kau dinosaurus... ngana kira ngana mampu mo malawang pa kita? Rasakan jurus putar galas...."
"Eh jurus apa le itu oti?" tanya mama keheranan
"kalo di cina ada jurus dewa mabo to mama... kalo torang di sini tu jurus pe nama : Jurus Putar Galas," dengan bangganya Oti menyebut nama jurus andalannya.

Ada-ada saja si Oti ya. Menginjak usia 6 tahun memang sudah banyak perubahan di diri si Oti. Sudah semakin anak-anak gede saja kelakuannya, mulai dari gaya bicara, tingkahnya, hingga ke cara berpikirnya... Agak aneh sih memang kalo di dengar sama orang, tapi orang rumah sudah pada maklum mengingat Oti lagi banyak meniru apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan.

"Malaaammmm...." terdengar suara papa di depan pintu.
"Malaaammm papa..." jelas sekali mama menjawab salam papa sambil berusaha memancing Oti untuk ikut bersuara... "Oti napa papa katu ada ba bilang malam, masak ngana nda mo jawab..."
"Ih kan mama so bilang tadi, so cukup toh.... Oti ada sibuk skarang." tetap sambil sibuk dengan mainannya yang mulai memenuhi lantai ruangan tamu dan keluarga.
"Oti, masak ngana bagitu.... nda sopan eh pa papa" papa Opit ikut nimbrung memotong jawaban ponakannya.
"Kong efek dang...?!?!" balas Oti cuek...

Semua terdiam, kaget, dan ternganga mendengar jawaban Oti. OMG, kok bisa anak sekecil ini ngomong judes begitu.
"Sudah jo. nda apa-apa. Oti... manimpang dulu kwa ngana pe mainan ini. So tafiaro di lante eh, enter papa mo bajalang pe susah."
"Oh, papa kwa tu mo bajalang kiapa kong oti mo sibuk le ba angka tu mainan. Papa jo tu angka no supaya boleh mo lewat...." Oti menjawab dengan cuek.
"Oti papa ada suruh pa ngana..." kata Papa dengan nada yang mulai meninggi tapi langsung dipotong sama Oti.
"Ciuuuusss? Miaaapaaa?!?!? Kong Oti musti mo nae di pohong kong bataria pucuk-pucuk-pucuk githu...." sambil tertawa Oti menjawab ketus...

Tidak disangka-sangka dalam waktu kira-kira 3 detik, Papa langsung mencabut ikat pinggangnya dan menitipkan pukulan ke arah pantat Oti yang kebetulan sedang membelakangi Papa. Tak urung lagi, Oti langsung menangis menahan sakit.... "Apa ngana bilang pa papa...?!" teriak papa sambil menarik Oti.
"Hu...hu....hu.... cii-- uuuuusss... mia...." belum sempat selesai kalimat ini ikat pinggang papa kembali mendarat di betis Oti.

Mendadak suasana rumah jadi tegang dan panas. Suara ikat pinggang yang menyentuh kulit terdengar menggelegar dan membahana di seluruh ruangan (kayak kata Syahrini).
"Oti sekarang ngana maso kamar. Mulai besok ngana so nimbole ba uni TV kecuali berita. Nda ada le yang di rumah boleh ba uni tu sinetron-sinetron deng felem-felem nda mendidik tu dia." perintah papa yang langsung membuat Oti lari ke kamar.

"Eh kiapa le kong so deng torang nimbole ba uni....?" tanya mama heran.
"So gara-gara ngoni pe ba uni itu, kong ngoni nyanda sadar kalo Oti so jaga iko-iko. Ini ngoni samua pe salah. So itu lia-lia sadiki apa tu ngoni ada ba uni kalo Oti le ada baku iko ba uni. Rupa ini, so rusak tu anak pe otak. Besok kita somo cabu tu antena TV. Nyanda ada yang boleh bauni." papa memberikan ultimatum.

"Ya payah.... besok malam kata ada mo ba uni bola kaki..." celetuknya Om Opit.
"Hah.... sapa yang mo main?" Papa mendadak berubah...
"Barca mo main dang..." jawab Om Opit
"Nanti torang pasang ulang tu antena kalo barca somo main." tegas papa
Hihihi... dasar si Papa, gak mau ketinggalan dengan sepak bola.....

Akhirnya Oti tertidur karena lelah menangis. Dalam hati dia menyesal sekali karena harus kena pukul papa. Coba saja tadi dia gak usah nyambung-nyambung dengan istilah gaul yang baru dia pelajari, pasti gak akan seperti ini. Pokoknya Oti kapok deh....

MORAL : Orang Tua harus ikut mengawasi dan menyaring semua informasi yang diterima oleh anak-anak supaya bisa terkontrol dan tidak merusak mental si anak.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.