Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Manado Bangkit

Kota Manado, di Provinsi Sulawesi Utara adalah kota tempat Hati Pitate dilahirkan. Dan sampai sekarang pun Mabesnya Hati Pitate tetap masih di Manado ini. Memang sih inginnya bisa punya kantor di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, tapi sampai saat ini belum ada investor yang mau kasih modal untuk pindah. Hehehe... boro-boro investor sekarang saja posting masih pake jasa internet gratisan alias nebeng. Yang penting 'gak malu untuk ngaku.

Kembali ke kota Manado,
Bagi banyak orang di Indonesia, Manado dikenal sebagai kota dengan sejuta pesona. Mulai dari pesona makanan yang beraneka ragam tapi pedasnya bikin kepala mau pecah, pesona tempat belanja yang pada numpuk di satu jalan panjang yang dibilang Boulevard Manado, bahkan sampai ke pesona orang-orangnya yang punya penampilan menawan.

Tapi di bulan Januari 2014 ini pesona kota Manado ini sedikit berkurang karena wajah Manado harus tercoreng dengan peristiwa Banjir Bandang yang menyapu 80% dari wilayah kota Manado. Banjir yang datang tiba-tiba ini meluluhlantakan kota yang selama ini selalu dikenal aman dari kerusuhan dan konflik. Banjir Bandang di tanggal 15 Januari 2014 telah mencoreng wajah Manado. 

Dalam waktu sekejap kota Manado yang amat hingar bingar berubah menjadi kota mati dan dipenuhi lumpur serta bau busuk menyengat. Berikut beberapa dokumentasi foto saat peristiwa ini terjadi.








 

Hingga hari Senin, 27 Januari 2014, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Provinsi Sulut merilis data korban dan kerugian akibat Banjir di Manado :
  1. 7 orang meninggal;
  2. Korban pengungsi sebanyak 25.103 KK atau sekitar 86.355 jiwa;
  3. Rumah hanyut sebanyak 800 rumah;
  4. 3.688 unit rumah rusak berat, 1.966 unit rumah rusak sedang, dan 4.789 unit rumah rusak ringan; 
  5. 29 buah Mesjid rusak, 28 unit Gereja rusak, dan 53 sekolah rusak;
Total kerugian secara fisik diperkirakan lebih dari 1,87 Triliun Rupiah. Angka yang tidak sedikit bila diukur dari Wilayah Kota Manado yang masih masuk dalam Kategori Kota Sedang.

Peristiwa ini benar-benar telah meninggalkan duka yang mendalam bagi semua warga kota Manado bahkan semua orang asal Manado yang tinggal di luar daerah atau luar negeri. Tak pernah ada dalam bayangan kalau Manado akan menghadapi situasi seperti ini. Duka, tangis, ratap, dan permintaan tolong terdengar di seluruh bagian kota Manado. Hingga beberapa minggu setelah kejadian pun masih saja terlihat reruntuhan dan puing-puing sisa rumah yang hancur atau hanyut.

Satu hal yang menjadi evaluasi bersama, bahwa tidak ada satupun daerah, orang, pemerintahan, wilayah yang akan lolos bila harus berhadapan dengan bencana alam. Akan tetapi semua ini bisa dicegah dengan pengelolaan lingkungan yang baik tentunya. Banjir di Manado pun sebenarnya bisa dihindari bila semua warga dan pemerintah benar-benar baik dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan di sekitar kita. Sebaliknya jika semua area di suatu daerah kemudian diubah secara brutal menjadi daerah pemukiman, daerah perbelanjaan, daerah investasi, tanpa ada upaya peremajaan hutan atau upaya pencegahan lainnya, maka jangan mimpi bisa melawan alam.

Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan atau meratap dan mengeluh. Saatnya Manado untuk bangkit dengan segala upaya yang tersisa. Bisa terlihat di seluruh pelosok kota saat ini sedang dilakukan upaya pembersihan dan pemulihan kondisi kota. Segenap warga dan pemerintah kini bahu-membahu bekerja keras untuk mengembalikan pesona kota Manado.

Upaya ini tidak terlepas juga dari bantuan semua teman, rekan, sahabat, dan saudara yang ada di Kabupaten/Kota lain di Provinsi Sulawesi Utara. Bila anda berjalan di seputaran kota Manado saat ini, maka anda bisa melihat banyak sekali bantuan tenaga yang datang dari Minahasa, Minahasa Selatan, Bitung, bahkan dari Kalimantan, Jawa, dan provinsi lain di Indonesia dan mengulurkan tangan membersihkan kota Manado.

Mereka datang secara mandiri dan dengan kemampuan yang ada mereka turun langsung menopang saudaranya di Manado. Bisa dibayangkan betapa besar kerinduan mereka untuk datang menolong. Datang naik Truk sambil bawa bahan makanan, pakaian, uang yang akan mereka sumbangkan kemudian bekal untuk mereka sendiri selama bekerja bhakti di Manado. Berangkat dari daerah masing-masing sejak subuh, pulang menjelang malam, dan datang lagi keesokan harinya. Dan ini sudah berlangsung lebih dari seminggu.

Warga Manado dan Sulut pada umumnya kini tengah diuji kekuatan dan kesungguhannya untuk berdiri bersama dan bekerja bersama-sama untuk membangun kembali kota ini. Kami di Manado percaya bahwa, butuh sesuatu yang lebih besar lagi dibanding Banjir Bandang untuk menghancurkan Manado. Karena kami punya TUHAN yang luar biasa besarnya yang akan menopang kami dan menguatkan kami. Kami percaya bahwa TUHAN masih sayang dengan Manado sehingga kami dipanggil pulang, kembali, dan bersatu di hadapanNya.

Siapa pun anda yang belum kenal orang Manado, kini saatnya kami akan buktikan bahwa benar kami bersaudara. Torang Samua Basudara, Baku Sayang, dan sekarang Torang pasti Baku Tongka untuk Bangkit kembali.








Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.