Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Seri Cerita EDO : Usaha, Kerja keras, dan Pengorbanan

Untuk kali ini aku mau bercerita tentang seorang mantan teman sekantor yang dulu pernah menjadi salah seorang teman akrab di kantorku. Beliau adalah Om Frans. Entah kenapa aku bisa sangat dekat dengan beliau, mungkin karena mukaku yang sering disebut muka tua, hingga banyak dari teman-temanku justru adalah mereka yang lebih tua umurnya dari aku. Malah di beberapa waktu aku sering disapa Om sama orang yang sebenarnya lebih tua ketimbang aku.

Oh ya, tentang Om Frans yang mau aku ceritakan sebenarnya tidak terlalu spesial di antara teman-teman kantor yang lain. Sebagai salah satu staf di bagian umum, beliau dipercayakan sebagai sopir dari big boss kami. Jadi tugasnya adalah menjadi juru mudi boss mulai dari pagi saat start dari rumah hingga pulang lagi ke rumahnya. Tapi memasuki usia 50-an, Om Frans tidak lagi melayani big boss untuk urusan perjalanan. Pihak kantor sudah menempatkan seorang sopir baru yang lebih energik dan sigap untuk mendampingi si boss.

Maka dari itu Om Frans sejak dipindahtugaskan, lebih banyak berada di kantor, sambil sesekali mengantarkan beberapa orang staf yang punya urusan kerja di luar kantor tapi masih di dalam kota. Kalau lagi tidak bertugas, Om Frans banyak menghabiskan waktunya di ruang departemen umum, pantry, atau sekedar ngobrol dengan security kantor di pos depan. Aku sih melihat keadaan ini dengan hati miris, karena pasca perubahan kerjaannya, Om Frans kayak kurang bersemangat lagi, lebih banyak melamun, dan kayak orang yang banyak pikiran. Tapi di sisi lain aku justru senang, karena sejak saat itulah saya makin kenal beliau dan kehidupannya.

Darinya aku bisa tahu kalau Om Frans memang asli orang Minahasa tapi lahir dan besar di kota Jakarta. Jadi beliau cukup bisa menerima gaya kehidupan modern dan tidak kaku untuk masuk ke lingkungan yang modern itu. Ini mungkin juga yang membuat beliau bisa diterima big boss sebagai sopir pribadinya.

Om Frans memiliki seorang istri dan 3 orang anak cowok, waktu masih bekerja, anak Om Frans yang paling tua sudah duduk di bangku SMU dan diikuti kedua adiknya di SMP dan SD. Buat saya dengan keadaan 3 orang anak yang bersekolah, maka sudah pasti Om Frans harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sementara istrinya yang berasal dari pulau jawa hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa, membuat tumpuan pencaharian terpusat pada pekerjaan Om Frans saja. Coba kamu bayangkan bagaimana sulitnya menjalani hidup sebagai seorang sopir di sebuah perusahaan swasta dan harus mencukupi kebutuhan hidup dari 5 orang ditambah dengan biaya sekolah dari 3 orang anaknya. Untuk ukuran gajinya sebagai sopir, pasti harus gali tutup lubang setiap bulan supaya semua kebutuhan bisa terpenuhi.

Saya juga mengerti kenapa Om Frans sangat rajin di kantor, dia selalu siap untuk disuruh kemana saja mulai dari boss hingga ke staf karyawan biasa kayak aku, untuk mendapatkan sekedar tip atau sisa uang belanjaan. Biasanya sih kalau hanya sekedar urusan beli makan siang, aku dan teman-teman minta tolong Om Frans yang beliin kalau kami semua pada malas keluar kantor di jam istirahat. Dan Om Frans ini mau aja disuruh sama orang-orang yang jauh lebih muda dari dia. Usut punya usut, Om Frans selalu beli makan siang untuk kami di warung kenalannya, dan karena itu juga pemilik warung sering kasih bonus Nasi bungkus untuk makan siangnya Om Frans. Pantas saja dia sering bujuk kami untuk tetap beli di warung itu di saat kami minta dibelikan makan siang di tempat yang lain.

Beliau dengan santai menjawab, 'lumayan pak, bisa dapat makan siang gratis. saya kan tidak punya uang untuk beli...' waktu kami tanya kenapa beliau kekeuh beli makan siang di warung itu. Dan sejak mendapatkan jawaban itu, kami selalu memberikan ekstra satu bungkus buat Om Frans bila kami minta tolong ke beliau untuk belikan makan siang sesuai menu pilihan kami.

Suatu kali kami sepakat untuk makan sama-sama di luar saat jam istirahat, sambil merayakan ulang tahun dari salah seorang teman di bagian pembukuan. Kami pun baru kembali ke kantor pada pukul 2 siang dengan perut kekenyangan, sebenarnya ini sudah terlambat karena waktu istirahat sudah lama usai, tapi karena sudah izin lebih dulu maka kami sekantor dapat dispensasi. Sejak kembali siang itu aku melihat Om Frans bolak-bolik terus ke dispenser air mineral yang kebetulan letaknya di depan ruang kerjaku. Setelah lebih dari 5 kali beliau mengisi gelasnya, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya 'Haus terus ya Om Frans? perasaan dari tadi minum terus'. Dan bukan main kagetnya aku mendengar jawaban beliau. 'Iya pak lumayan untuk bikin kenyang. Saya memang seperti ini kalau tidak sempat makan siang. Saya minum banyak saja sampai kenyang...' sambil ketawa Om Frans pergi meninggalkan aku melongo sendiri. Dia banyak minum untuk mengisi perutnya yang kosong supaya tidak lapar.... 

Memang situasi hidup Om Frans membuat dia ekstra ketat dalam mengeluarkan uang, atau bahkan dia memang tidak punya uang maupun bekal untuk makan siang. Dia pernah sharing ke aku kalau semua gajinya yang pas-pasan itu dia setor ke istrinya setelah tiba di rumah pada tanggal gajian. Biasanya untuk transport sehari-harinya dia bergantung pada mobil kantor yang dia bawa pulang sewaktu masih jadi sopir boss. Itu sebabnya Om Frans kayaknya kecewa sekali waktu dipindahtugaskan, malahan kalau sore sepulang kantor Om Frans biasanya jalan kaki ke rumahnya yang lumayan jauh dari kantor, supaya menghemat ongkos.

Setelah banyak mendengar kisahnya, aku tanya langsung ke beliau, 'Om Frans kenapa menyiksa diri seperti itu?' sudah capek kerja seharian, setidaknya dia harus pulang rumah dengan nyaman dan istirahat bersama keluarga.' Beliau bilang bahwa itu harus dia lakukan supaya bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan gaji yang dia terima. Dia berniat untuk bekerja keras supaya anak-anaknya bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi. Karena itu dia harus lebih keras bekerja dan lebih mampu berkorban untuk istri dan anak-anaknya. 

Pada intinya, beliau bekerja dengan rajin dan tekun supaya bisa mendapatkan banyak penghasilan, dan berusaha agar dirinya sendiri tidak banyak melakukan pengeluaran dari penghasilannya itu agar mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, dia sangat menahan diri begitu rupa hingga tidak makan siang atau bolak-balik jalan kaki dari rumah ke kantor. Pengorbanan yang luar biasa.

Aku sendiri sebagai seorang pria merasa wajib belajar dan mencontoh teladan dari Om Frans. Mau bekerja keras dan mau berkorban demi keluarga. Untuk kota manado, belakangan ini banyak juga suami atau ayah yang kurang mau bekerja keras demi keluarganya, apalagi mau berkorban diri untuk keluarganya dengan cara yang ekstrim seperti Om Frans. 

Pada saat Om Frans meninggal 1 orang anaknya sudah menyelesaikan kuliah S1 dan juga bekerja di perusahaan kami. Sementara anaknya yang kedua juga sudah sudah selesai S1 dan sedang berusaha agar diterima sebagai PNS, dan anak yang ketiga sudah memasuki semester akhir di perguruan tinggi. Dan ini bisa terjadi karena usaha, kerja keras, dan pengorbanan Om Frans selama ia hidup.

Bagaimana dengan anda? Seperti apa pengorbanan diri anda terhadap keluarga?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.