Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Kunjungan Yang Unik

Natal di tahun 2011 yang lalu membawa kenangan tersendiri, karena saya dan keluarga menerima kunjungan yang cukup unik. Kayaknya seru juga untuk dibagikan di sini. Saya sendiri tidak tahu bisa bermakna apa kisah ini tapi mudah-mudahan memiliki kesan tersendiri ketika anda membacanya.

25 Desember 2011 - Pkl. 19:00
Hari sudah lumayan gelap dan dingin karena hujan yang sedari sore mengguyur kota Manado. Saya dan keluarga belum sempat keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan atau berkunjung ke rumah saudara. Rencananya sih ada rekan-rekan kerja saya yang akan datang untuk memberi ucapan selamat natal. Tapi sejak siang tadi belum ada satu orang pun yang muncul.

Sementara beberapa kelompok anak sudah datang silih berganti sejak pukul 2 siang tadi. Lumayan juga repotnya, karena harus menyiapkan hidangan berupa kue-kue dan minuman ringan untuk mereka. Soalnya anak-anak itu hanya duduk paling lama 10 menit, dan langsung permisi pulang begitu angpao selesai dibagikan. Setelah itu datang lagi kelompok lain yang bertingkah tidak jauh berbeda dengan kelompok anak sebelumnya. Tapi itulah manado, tradisi ini memang sudah berjalan sejak saya masih anak-anak tempo dulu.

Sampai sekarang saya selalu senang menerima kedatangan anak-anak yang sekedar memberi ucapan selamat natal kepada kami sekeluarga atau juga untuk mencari angpao. Bahkan rasanya tidak lengkap kalo rumah kami tidak meneriman kunjungan anak-anak di hari natal. Tapi di hari ini ada sesuatu yang unik dan berbeda namun sangat berkesan buat kami sekeluarga. 

Saya baru saja masuk ke kamar mandi ketika mendengar suara anak-anak berteriak serempak...
"Selamat hari natal......! boleh mo pasiar"
"Oh boleh no... mari maso dang...." terdengar jawaban istri saya dengan singkat.

Saya bergegas keluar lagi untuk melihat, siapa gerangan yang datang di jam segini. Memang anak-anak biasanya datang di sore hari, dan bukan di malam hari. Begitu saya tiba di ruang tamu...

Selamat pagi Tuhan, tak lupa terima kasih
Tuhan sudah jaga saya tiap hari
Matahari bersinar, burung-burung bernyanyi
Bertambah-tambah-tambah indahnya...

kelompok anak yang baru tiba itu sedang berdiri rapi sambil membawakan lagu tadi. Hehehe... agak terkejut juga melihat kejadian ini. Soalnya selama beberapa tahun terakhir setiap ada kunjungan anak-anak dalam rangka 'pasiar natal' tidak ada yang membuka kunjungannya dengan membawakan nyanyian seperti ini...

Tapi ya sudahlah, mereka langsung disilahkan duduk dan disuguhi kue-kue serta minuman ringan oleh istri saya. Dengan riang mereka mulai menikmati hidangan yang kami sajikan. Sambil diselingi dengan senda gurau dan canda tawa, mereka terus saja bergembira menikmatinya. 

Iseng-iseng saya bertanya kepada mereka, "Ngoni maso sekolah minggu di mana?" (Kalian anak sekolah minggu dari mana?)
"Oh, bukang om. Torang bukang dari sekolah minggu..." (Oh bukan om. Kami bukan anak Sekolah Minggu)
"Kong ngoni ini dari mana dang?" (Terus kalian dari mana?)
"Torang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Kayu Bulan Manado...."
"Haah...."
Saya dan istri serta anggota keluarga lain merasa kaget dengan jawaban mereka ini. Tumben ada kelompok anak dari saudara kita yang muslim datang bersamaan dengan identitas mereka yang sama kemudian memberikan ucapan selamat natal dari rumah ke rumah. Pake nyanyi lagi....

Ada rasa lucu, bangga, bahkan terharu melihat mereka. Dengan penuh kepolosan mereka datang dan ikut merasakan sukacita natal dalam keluarga kami. Mereka tidak melihat perbedaan serta berani mengungkapkan identitas yang jauh berbeda tanpa ada rasa malu dan kepentingan apa pun. Bagi kami sekeluarga, ini juga merupakan kesan khusus karena mereka ternyata mengenal anak kami, si Raffa, dan sering bermain bersamanya. Mereka tahu kalau Raffa sedang natalan maka mereka datang berkunjung untuk memberikan ucapan selamat.

Situasi ini tidak berlangsung lama karena seperti anak-anak yang lain mereka juga langsung beranjak pergi setelah angpao dibagikan ke mereka satu per satu. Ya namanya juga anak-anak, mereka senang sekali ketika melangkah keluar dari pintu rumah kami.

Kejadian sederhana namun memiliki makna luar biasa... Seandainya semua umat beragama di Indonesia memiliki ketulusan seperti mereka... Semoga Tuhan memberikan hati yang murni dan tulus kepada anda juga untuk mencontoh anak-anak ini... karena kami sekeluarga juga belajar dari mereka.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.