Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Orang Kristen Jadi Baik di Hari Natal?

Saat postingan ini ditulis, saya sedang mengikuti ibadah Pra Natal bersama jemaat tempat kami tinggal beberapa waktu yang lalu. Ibadahnya berlangsung dengan hikmat dari awalnya, hingga saat sebelum perenungan Firman Tuhan, kami menyaksikan sebuah drama singkat yang dimainkan oleh anak-anak sekolah minggu.

Kisah drama ini dibawakan dengan sederhana dan seadanya. Mungkin karena usia mereka masih muda dan belum pengalaman, kami banyak tertawa melihat penampilan mereka. Ya, kisah anak-anak pedagang koran di jalanan dibawakan dengan kocak dan menarik perhatian.

Hingga pada bagian tertentu, si tokoh utama yang lagi sakit parah dikejutkan oleh suara lonceng gereja mengawali Ibadah Natal di Gereja. Dia yang masih sakit ketika hari Natal itu dengan sedih berkata, "Coba kalo kita ada bae-bae, pasti kita mo mengamen lagu-lagu natal. Boleh mo dapa doi banyak, soalnya kalo hari Natal bagini banyak orang Kristen yang jadi pambae" (dalam dialeg manado : Coba kalo saya sedang sehat, pasti saya bisa ngamen menyanyikan lagu natal. Bisa dapat uang banyak juga, soalnya di hari Natal seperti ini, banyak orang Kristen yang menjadi baik/dermawan).

Saya yang lagi tertawa langsung terdiam dan berpikir, 'benarkah orang Kristen jadi dermawan dan suka berbagi di hari Natal?' juga 'apakah hanya di hari Natal saja orang Kristen jadi baik?'. Saya sebagai orang Kristen, dalam hati dengan rasa malu dan mengaku, 'mungkin memang benar anggapan itu...'

Tanpa sadar, kita yang mengaku Kristen memang menjadi luar biasa baik hati dan dermawan di hari Natal. Ditambah dengan paham bahwa masa Natal adalah masa berbagi kebahagiaan, maka semakin kita rajin memberi dan berbagi berkat dengan orang lain.

Tapi bagaimana dengan hari-hari lain di sepanjang tahun? Apakah kita bisa sebaik dan sedermawan dengan diri kita di hari natal? Apakah memang Tuhan hanya memerintahkan kita untuk mengasihi orang lain di hari Natal?

Kembali lagi di masa penantian kedatangan Yesus Kristus di hari Natal dan bahkan kedatanganNya yang kedua, kita semua diingatkan bahwa kita diminta Tuhan untuk mengasihi sesama di setiap saat dalam hidup kita. Tanpa batas waktu dan tempat, maka kasih kita pun harus nyata setiap saat. Dan hendaknya kasih kita ini bisa menjadi nyata kepada semua orang tanpa pandang bulu. Tanpa melihat siapa yang harus kita kasihi. Kasih yang tulus untuk semua orang seperti kasih Allah bagi dunia ini.

Bagian Firman Tuhan juga mengingatkan bahwa ketika kita menyatakan kasih dalam perbuatan kepada orang-orang yang paling hina sekalipun, maka itu sama dengan kita melakukannya kepada Tuhan (Bnd. Mat. 25 : 40). Ini adalah bentuk penerimaan yang terbaik dari kita atas kehadiran Putra Natal dalam kehidupan kita sendiri. Dimana kita sebagai manusia mampu melihat kehadiran Allah dalam diri dan wujud sesama kita.

Ah, saya sendiri jadi termotivasi dengan perenungan di atas, karena ini juga adalah salah satu hal yang sering kita lewatkan sebagai diri orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Ternyata walau kesannya kecil, tapi hal ini bisa berpengaruh banyak bahkan merubah kehidupan kita baik di dunia serta kehidupan bersamaNya kelak.

Ayo berbagi kasih setiap saat.


Salam Hormat,
Stanly Ilat

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.