Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

GMIM : MTPJ 29 Maret – 4 April 2015


TEMA BULANAN : “Penderitaan Kristiani Dalam Solidaritas Dengan Sesama Anak Bangsa”
TEMA MINGGUAN : “Solidaritas Sejati Dalam Kehambaan Yang Menderita”
Bahan Alkitab:  Yesaya 53:1-8; Markus 15:20b-32
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Kita semua tahu bahwa kehidupan di sekitar kita tidak saja diwarnai dengan kesenangan, hidup berlimpah dengan kekayaan, berbagai kebutuhan dapat diperoleh, karena daya beli yang dimiliki, tetapi juga terpampang dihadapan kita berbagai kesusahan antara lain, seperti: kemiskinan sementara yang kaya semakin berjaya , anak-anak kekurangan gizi dan ketiadaan biaya pendidikan . Pada sisi lain ada yang hidup tertindas karena ketidakadilan, disamping itu pula pelaksana hukum keadilan menjadi pelanggar hukum. Yang lebih ironis, seperti yang diberitakan oleh media cetak (surat kabar) dan media elektronik (televisi) bahwa ada seorang nenek yang terpaksa mencuri sekaleng susu di sebuah pasar swalayan untuk cucunya (sang bayi) yang menderita kelaparan kemudian tertangkap dan segera diproses dalam pengadilan lalu dijatuhi hukuman penjara beberapa bulan. Sebaliknya seorang koruptor dalam jumlah miliaran, proses pengadilan berkepanjangan dan hanya dijatuhi hukuman beberapa tahun. Fenomena ketidakseimbangan itu sungguh memiris hati dan menjadi terluka, sebab yang menderita semakin menderita dan mereka yang hidup senang hanya merasakan penderitaan sesaat dalam penjara, sebab masih tersisa hasil korupsi yang mestinya dianggarkan oleh negara untuk sesama anak bangsa yang masih terbelenggu dalam penderitaan dan kesusahan, yang nantinya dinikmati dalam kesenangan oleh sang koruptor untuk hidup selanjutnya. Kondisi yang tidak adil ini mendorong sebagian orang di Republik tercinta ini untuk mengusulkan agar kepada mereka dijatuhi hukuman ”pemiskinan”. Namun usul itu bagaikan angin lalu begitu saja dengan alasan: belum ada hukum yang mengatur. Meski demikian paling tidak itulah gerakan moral dari sebagian orang sebagai sesama anak bangsa (di dalamnya Gereja sebagai persekutuan orang Kristen), dalam menyikapi ketimpangan yang terjadi. Dari contoh itulah, dalam bingkai antara lain munculnya berbagai bentuk penderitaan dalam kehidupan sesama, maka diangkatlah Tema Minggu Sengsara ke VI ini yaitu:”Solidaritas Sejati Dalam Kehambaan Yang Menderita”, disoroti Tema Bulanan: ”Penderitaan Kristiani Dalam Solidaritas Dengan Sesama Anak Bangsa”.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Yesaya 53:1-8 yang adalah bagian dari nubuatan nabi Yesaya ketika bangsa Israel (kerajaan Utara) dan Yehuda (kerajaan Selatan) masih terbuang di Babel dan yang lainnya di Asyur. Pada ayat 1 muncul kalimat sebagai pertanyaan nabi, ”Siapakah percaya kepada berita…? Pertanyaan itu berhubungan dengan pertanyaan berikutnya dengan kalimat ”kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan”. Ada kesan kuat disini bahwa bangsa Israel yang menjadi alamat nubuatan nabi berada dalam keraguan bahkan ketidakpercayaan terhadap apapun termasuk berita yang disampaikan kepada mereka. Apakah itu disebabkan oleh karena kondisi mereka dalam pengasingan dan waktunya sudah berlangsung bertahun-tahun dan belum tahu masa itu kapan berakhir? Mungkin saja. Tetapi sesungguhnya ketidakpercayaan umat adalah suatu warisan lama yang diturunkan oleh pemimpin mereka di masa lalu. Meski dalam ukuran kemampaun berpikir manusia datangnya dari seorang Yesaya namun inilah kemampuan Allah yang tak mampu diukur oleh pikiran manusia, dimana Allah menyatakan berbagai peristiwa khusus dimasa depan melalui para nabi-Nya. Betapa tidak, sebab pada sekitar tahun 740 SM Yesaya memperingatkan Ahas raja Yehuda untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur untuk melawan Israel dan Aram. Dan setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, Yesaya juga memperingatkan Hizkia raja Yehuda, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing untuk menentang Asyur. Ia menasehati kedua raja Yehuda itu untuk hanya percaya kepada Tuhan saja sebagai perlindungan mereka. (bnd.7:3-7; 30:1-17). Kenyataan itupun terus berlangsung dikalangan Yahudi ketika Yesus datang pertama kali dengan pelayanan kehambaan-Nya yang berpuncak pada sengsara, penderitaan dan kematian-Nya di kayu Salib. Oleh sebab itu dapatlah dimengerti mengapa nabi Yesaya dengan rinci menjelaskan tentang penderitaan seorang hamba, yang di kemudian hari menunjuk kepadaYesus dalam ke-Mesiasan-Nya yang menyelamatkan. Bahwa munculnya Dia sebagai taruk di hadapan Tuhan dan sebagai tunas dari tanah kering menunjuk kepada keadaan Yesus yang tidak hanya sederhana, tetapi juga datang ketika dunia dilanda kekeringan rohani. Dan memang hamba itu tidak tampak apalagi semarak, sebab Mesias itu tidak akan memiliki kemuliaan dan daya tarik ketampanan-Nya. Malahan Ia tidak diterima bangsa Israel (Yahudi), melainkan dibenci dan ditolak. Padahal misi-Nya penuh kesengsaraan karena ketidak-percayaan dan dosa manusia ,yang mencakup: penderitaan, sakit, kekecewaan dan kesedihan besar. Dan penyakit-penyakit dosa manusia itu yang ditanggung-Nya. Yesus sebagai hamba yang menderita sengsara tak cukup dengan itu, tetapi semakin lengkap dengan tikaman dan salib, seperti domba yang dibawa kepembantaian untuk menggantikan manusia karena sudah sesat seperti domba, melalui pemberontakan dan dosa di hadapan Allah. Oleh bilur-bilur-Nya yaitu semua bentuk sengsara dan pen deritaan hamba, maka manusia menjadi sembuh. Penyembuhan menurut nabi Yesaya di sini, sesungguhnya mengacu kepada puncak tertinggi dari kasih Allah bagi manusia, yaitu keselamatan sempurna dengan memperoleh keuntungan rohani dan jasmani. Puncak tertinggi itulah yang disaksikan oleh penginjil Markus dalam Markus 15:20b-32. Dan kisahnya juga terjadi di bukit tertinggi di luar kota Yerusalem, yaitu bukit Golgota yang artinya Tempat Tengkorak. Para penguasa Romawi dengan serdadunya sebagai antek-antek kaum Parisi dan Ahli Taurat melampiaskan puncak kejahatan mereka kepada Yesus Anak Tunggal Bapa, untuk disalib. Beratnya Salib yang dipikul Yesus melukiskan beratnya beban dosa manusia yang menindih, mmenyebabkan Yesus jatuh bangun ketika memikul salib. Inilah tahap keenam dari penderitaan Yesus ketika Ia dibawa keluar untuk disalibkan. Dan ketika tangan dan kaki-Nya dipakukan di balok salib sebagai gambaran dari malang-melintangnya dosa manusia yang tak ternilai, maka kasih Allah yang tak ternilai melalui sengsara Yesus pada kayu salib, menjadi terbukti pada penderitaan Yesus yang ketujuh ini. Dan ketika jubah ke Mesiasan Yesus diundi dan Dia disamakan dengan indentitas Raja Yahudi, diapit oleh dua orang penyamun serta dihujat oleh orang banyak termasuk kedua penyamun, maka inilah penderitaan Yesus yang ke delapan dalam mengimplementasi kehambaan Yesus yang menjalani penderitaan guna membersihkan cemarnya kedurhakaan dosa manusia. Meski demikian, dari semua kedurhakaan dan kebejatan manusia masih ada orang yang solider dengan kehambaan Yesus yang menderita sengsara, yaitu Simon orang Kirene yang berperan menggantikan Yesus, memikul salib (ay.21).
Makna dan Implikasi Firman
Penderitaan dalam berbagai warna dan bentuknya tidaklah sepi dialami oleh manusia termasuk orang Kristen, disepanjang zaman dan tempat. Penderitaan sebagai fenomena yang tampil jelas di sekitar kita, disadari merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak jarang kurang percaya terhadap jalan kehidupan yang diatur oleh Sang Khalik, selain mengandalkan kemampuannya yang terbatas, menyebabkan munculnya berbagai ketimpangan dalam kehidupan orang banyak dan paling kurang sekelompok orang terbelenggu dalam penderitaan yang menyengsarakan hidupnya. Kondisi-kondisi itu tidak boleh tidak mengundang keprihatinan yang konkrit untuk dilakukan sebagai wujud dari Solidaritas Kristiani yang dimotivasi oleh Solidaritas sejati melalui ke hambaan Yesus yang rela menderita bahkan tersalib, untuk menebus, memebebaskan manusia dari belenggu penderitaan dosa, menuju keselamatan. Pemahaman iman ini, mestinya perlu dihayati secara mendalam, apalagi ketika kita sebagai umat Kristiani memasuki Minggu Sengsara ke VI sebagai puncak atau akhir dari perayaan sengsara dan penderitaan Yesus sebelum perayaan Jumaat Agung/kematian Yesus Kristus. Dengan demikian perayaan ini termasuk 5 Minggu sebelumnya, bukan hanya sebagai seremonial yang warnanya kusyuk semata, melainkan menjadi sarana dan wahana penghayatan iman yang bermuara pada solidaritas Kristiani yang nyata dalam upaya membebaskan sesama yang menderita oleh berbagai belenggu tekanan kehidupan, menuju keselamatan rohani dan jasmani.

PERTANYAAN DISKUSI
1. Memahami teks pembacaan Alkitab kita, apakah yang kita temukan dalam rangka solidaritas sejati dalam kehambaan yang menderita.
2. Siapakah yang tampil mengambil bagian memikul salib Yesus menurut Markus 15:21?
3. Bagaimanakah tindakan kita dalam mewujudkan solidaritas Kristiani bagi sesama kita yang menderita antara lain disebabkan oleh karena kemiskinan dan ketidakadilan?


NAS PEMBIMBING: Ibrani 2:10
POKOK-POKOK DOA
1. Mereka yang tersisih, terasing dan miskin dan mengalami ketidak-adilan
2. Hukum senantiasa diberlakukan dalam kebenaran dan keadilan oleh setiap penegak hukum dan masyarakat senantiasa taat hidup sesuai hukum yang berlaku.
3. Gereja agar senantiasa menyatakan solidaritasnya dalam kehambaan Yesus Kristus yang menderita, dalam upaya membebaskan dari berbagai belenggu hidup.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU SENGSARA VI
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Persiapan: NKB.No.82: 1-3 ”T’lah Terdengar Di Golgota”
Nyanyian Masuk/Ses Nas Pemb: KJ.No.166:1-2 ”Tersalib dan Sengsara”
Pengakuan Dosa: NKB.No.11:1,3 ”Ya Yesus, Tebuslah Seg’nap Dosaku”
Sesudah Berita Anugerah Allah: KJ.No.34:1-2 ”Di Salib Yesus Di Kalvari”
Sesudah Ajakan Mengikut Yesus: KJ.No.157: 1-2 ”Insan Tangisi Dosamu”
Persembahan: KJ.No.368:1-4 ”Pada kaki Salib-Mu”
Penutup: NNBT No.28 ”Ya Tuhan, Tolong Aku”
ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:
Warna dasar ungu dengan simbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.