Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

GMIM : MTPJ 3 – 9 Mei 2015



TEMA BULANAN: “Solidaritas Kristiani dalam Kebangkitan dan Kemenangan Kristus”
TEMA MINGGUAN: “Kemenangan Orang yang Diurapi”
Bahan Alkitab: Mazmur 20:7-10; 1 Korintus 9:19-23
ALASAN PEMILIHAN TEMA
- Diurapi artinya dipilih oleh Allah, dan diperlengkapi dengan kuasa-Nya untuk melakukan kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Makna pengurapan dapat berarti bahwa Tuhan mengambil alih segenap kehidupan kita;  Tuhan mengatur dan mengendalikan hidup kita dan mematikan manusia lama sehingga kita hidup menurut pimpinan Roh kudus.

- Dengan demikian orang yang diurapi siap menghadapi keadaan, punya prinsip yang tegas, tetapi lemah lembut dan tenang. Dalam keadaan terdesak tidak panik dan tidak bertindak salah, tetap berdoa meminta petunjuk dari Tuhan (contoh Musa dalam Keluaran 14: 13); harus selalu mengerti dan mau menjalankan kehendak Tuhan (contoh Samuel dalam 1 Samuel 16:12); yakin pada akhirnya meraih kemenangan sekalipun dalam kesulitan (contoh Daud dalam Mazmur 20:7-9); serta mampu memenangkan orang lain demi kemuliaan Kristus (contoh Paulus dalam 1 Korintus.9:19,20).
Jadi tema : “Kemenangan Orang Yang Diurapi”. Tema ini di pilih dengan maksud setiap warga gereja adalah orang-orang yang diurapi untuk hidup berkemenangan sehingga menghayatinya dalam hidup sehari karena memiliki kemenangan sebagai orang yang diurapi.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
- Mazmur 20 dikelompokkan dalam Mazmur Raja yang terstruktur sebagai satu rangkaian liturgi, dibawakan dengan beberapa suara pada upacara pemberkatan sebelum raja pergi berperang (bandingkan 1 Samuel 7:9-11). Juga digunakan sebagai ucapan pelantikan seorang raja keturunan Daud, dan sebagai doa umat untuk raja agar mampu membebaskan negeri dari ancaman. Khusus ayat 7-9 merupakan bagian kedua dari rangkaian liturgi (bagian pertamanya ayat 2-6).

- Ayat 7 menunjuk pada seorang Imam atau Nabi yang tampil ke muka dan memastikan bahwa permohonan (lihat ayat 2-6) dikabulkan, artinya Imam atau Nabi menyampaikan kabar baik seperti yang diharapkan umat, bahwa Allah menyatakan kasih setia-Nya kepada orang yang diurapi-Nya. Kata “yang diurapi” sebenarnya menunjuk pada istilah Mesias atau Mashiah atau Maschiah (Ibrani) atau Christos(Yunani). Dalam Perjanjian Lama digunakan untuk menjelaskan tentang pengurapan Imam (Im. 4:3); Raja (1 Samuel 24:10) dan Nabi (1 Raja-raja 19:16). Istilah ini juga menunjuk kepada umat Allah secara umum, termasuk nabi-nabi (Mazmur 105:15) dan umat Israel (Habakuk. 3:13). Ada indikasi bahwa Perjanjian Lama secara spesifik memakai istilah ”yang diurapi” pada nubuat kedatangan Mesias dari keturunan Daud (Mazmur. 2:2; Dan.9:26).
Dalam Perjanjian Lama tindakan pengurapan selalu berhubungan dengan “minyak urapan” (lambang Roh Kudus, bandingkan. Keluaran 29:2), yang memiliki peranan menyucikan dan menguduskan. Sedangkan Perjanjian Baru, pengurapan yang diterima oleh hamba Tuhan ataupun umat Tuhan bukan lagi menggunakan minyak, tetapi Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus mengurapi orang percaya dengan Roh Kudus, yang diperoleh ketika  percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (bandingkan 2 Korintus 1:20-22). Artinya ketika percaya, Allah memeteraikan dan mengurapi kita dengan Roh Kudus (bandingkan Kisah Para Rasul 10:38). Dengan diurapi, kita disucikan dan menjadi milik Tuhan (bandingkan 1Korintus 6:19-20). Ada juga penggunaan minyak dalam Perjanjian Baru sebagai “media” untuk menyembuhkan (bandingkan Markus 6:7,13) bukan sebagai “minyak urapan”. Pengertian minyak urapan tidak lagi mengacu kepada pengkhususan diri, karena semua sudah digenapi di dalam Kristus, semua yang percaya kepada Kristus adalah orang yang diurapi.
- Ayat 8, 9 menyatakan bahwa musuh sangat bangga akan kekuatan persenjataannya (kereta perang berkuda) sehingga menjadi sombong dan meninggikan diri. Mereka yakin bahwa Yehuda, negeri yang kecil pasti rebah dan jatuh. Tetapi ternyata Tuhan memberi kemenangan kepada Yehuda, sebab dalam kelemahan mereka selalu bermegah dalam nama Tuhan.

- Ayat 10 sebagai penutup, umat menyambut janji kemenangan dengan mengulang permohonan utama, yaitu kemenangan bagi raja.

- 1 Korintus 9:19-23, menjelaskan bagaimana Rasul Paulus mengidentikan dirinya sebagai teladan dalam prinsip penyangkalan diri demi kepentingan orang lain. Ia melepaskan haknya demi keyakinan orang lain (=melepaskan hak bebas untuk menjadi hamba bagi semua orang; melepaskan hak kerasulan), agar tidak membatasi pelayanannya ataupun menghambat Injil (1 Korintus 9:12). Hal ini tidak berarti bahwa ia mengorbankan prinsip kekristenan (Allah mencari manusia) ataupun berupaya untuk menyenangkan orang lain dengan maksud agar dihargai (Galatia 1:10) tapi ia menegaskan kesiapannya untuk menyesuaikan diri dengan keyakinan orang-orang yang ditolongnya. Ia sangat mengerti bahwa jika menyinggung orang lain dengan tidak memperhatikan keyakinan hati nurani mereka maka pelayanannya dapat  Padahal apa yang ia lakukan semata-mata memenangkan orang lain bagi  Kristus  (1 Korintus 8:1).
Makna dan Implikasi Firman
Kata “orang yang diurapi” sering dipersempit pengertian nya hanya terbatas kepada orang-orang tertentu yang diberi jabatan gerejawi (misalnya di GMIM sebagai Pelayan Khusus) atau kepada orang-orang yang memiliki karunia tertentu, ataupun orang-orang yang menyebut dirinya hamba Tuhan. Orang-orang tersebut dapat saja menyalah gunakan label “orang yang diurapi” sehingga tidak mau menerima teguran atau kritikan mengenai cara hidupnya, pelayanannya, berkhotbahnya dan cara menangani perbendaharaan. Bahkan merespons balik dengan memanfaatkan firman Tuhan yang ditafsir menurut kepentingan sendiri sehingga terjadi ketidakstabilan dalam hidup berjemaat yang bermuara pada perpecahan.

GMIM sebagai gereja reform mengajar anggota jemaatnya memahami “imamat am orang percaya” (lihat 1 Petrus 2:9,10) yang mengandung arti bahwa penugasan Tuhan Allah dalam Yesus Kristus Kepala Gereja untuk memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar itu diberikan kepada semua orang percaya. Berdasarkan panggilan tersebut maka semua orang percaya adalah pelayan.
GMIM memiliki jabatan gerejawi (Pelayan Khusus) yang diberi tugas khusus untuk memperlengkapi semua pelayan (lihat Efesus 4:12-16) maka Pelayan Khusus menjadi teladan bagi para pelayan (anggota jemaat) yang dilayaninya. Termasuk bagaimana menerima dan menyikapi teguran serta kritikan dengan belajar pada pengalaman raja Saul yang tidak menerima teguran nabi Samuel; pengalaman raja Daud yang menerima dan tunduk pada teguran nabi Natan; Rasul Paulus yang menegur Rasul Petrus karena tidak konsisten dalam pelayanan.

Mengandalkan dan memegahkan kedudukan, jabatan, kekayaan, kehebatan, kepinteran semata-mata dalam menjalani hidup bukanlah tipe “orang yang diurapi” dan pasti suatu waktu akan jatuh. Demikian halnya dengan memanipulasi dan memanfaatkan kemiskinan, keseder hanaan, keadaan marjinal untuk kepentingan pribadi.

Prinsip hidup dan gaya pelayanan Rasul Paulus menjadi sebuah oase (oase=mata air/daerah subur di tengah padang gurun) dalam ladang pelayanan gereja masa kini dan pasti anggota jemaat mengharapkan kehadiran lebih banyak oase sehingga ladang pelayanan terasa sejuk tidak seperti padang gurun yang gersang. Kehadiran pelayan khusus yang adalah “orang yang diurapi” mampu menghadirkan kesejukan dan kedamaian sehingga kondisi pelayanan yang terpuruk sekalipun dapat bangun berdiri, yang tidak terpuruk, tetap berdiri tegak dan sanggup memberi buah-buah roh.

Persekutuan jemaat yang dewasa merupakan kolaborasi pelayanan semua “orang yang diurapi”, yaitu pelayan khusus dan para pelayan yang adalah anggota jemaat. Jika ini yang terjadi maka demikianlah kemenangan “orang-orang yang diurapi”.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI     
1. Apa pendapat saudara tentang isi Mazmur 20:7-10 dihubungkan dengan pengalaman iman saudara sebagai “orang yang diurapi”?

2. Bagaimana menurut saudara prinsip hidup dan gaya pelayanan Rasul Paulus ketika berbaur dengan orang Yahudi dan non Yahudi?

3. Apa yang saudara pelajari dari jawaban nomor 2 dihubungkann dengan pewartaan Injil di tengah keberagaman agama/kepercayaan di Indonesia?
NAS PEMBIMBING: Roma 14:17-19
POKOK-POKOK DOA :
- Pribadi-pribadi “orang yang diurapi” supaya berpikir, berucap dan bertindak sesuai kehendak Kristus, terutama yang mengemban jabatan gerejawi.

- Pribadi-pribadi yang sombong, mengandalkan kekuatan sendiri untuk berbalik mengandalkan kekuatan Tuhan yang telah memberi berbagai talenta.

- Kesatuan/keutuhan jemaat walau dalam kepelbagaian sebagai cerminan sekumpulan “orang yang diurapi”.
TATA IBADAH DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN :
Persiapan: KJ No.2 Suci, Suci, Suci
Panggilan Beribadah          : NNBT No.4 Naikkan Doa Pada Allah
Sesudah Nas Pembimbing: NKB No.116 Siapa Yang Berpegang
Sesudah Pengakuan Dosa: NKB No.163 Tak Mudah Jalanku
Sesudah Berita Anugerah: NNBT No.8 Banyak Orang Suka Diampuni
Sesudah Pengakuan Iman: KJ No.242 Muliakan Allah Bapa
Sesudah Hukum Tuhan: NKB No.119 Nyanyikan Lagi Bagiku
Persembahan           : NKB No.196 Kuberoleh Berkat
Penutup: NNBT No.26 Tuhan Yesusku Mutiara Hatiku
ATRIBUT :
Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung yang sedang mekar dengan salib berwarna kuning kehijauan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.