Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

GMIM : MTPJ 31 Mei – 6 Juni 2015


TEMA BULANAN: “Solidaritas Kristiani dalam Kebangkitan dan Kemenangan Kristus”
TEMA MINGGUAN: “Kemenangan sebagai Dasar Menuntut Hikmat dan Memberitakan Injil”
Bahan Alkitab: Amsal 2:1-6; Kisah Para Rasul 8:4-8
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Setiap perlombaan pasti ada yang akan meraih keberhasilan dan kemenangan, namun ada pula kegagalan atau kekalahan. Sebagai bentuk apresiasi maka yang meraih kemenangan atau kesuksesan tersebut sudah tentu akan memperoleh hadiah yang telah disediakan. Begitu pula ketika perjuangan suatu negara dalam meraih kemenangan atau kemerdekaan, butuh pengorbanan diri dan kesungguhan hati dari setiap orang untuk meraihnya. Ketika kemenangan atau kemerdekaan itu telah diraih maka negara tersebut berdaulat dengan sendirinya dalam menyusun konstitusi dan memilih pemimpin negara.
            Dalam kaitan dengan iman Kristen maka kemenangan dalam semangat kebangkitan Kristus merupakan pegangan hidup dari setiap orang percaya dalam pelayanan dan kesaksian hidupnya. Kita yang telah di menangkan mempunyai hak atas karya keselamatan dan pelayanan kesaksian untuk menyelamatkan banyak orang. Dengan demikian kita membutuhkan hikmat dalam pelayanan termasuk dalam pemberitaan Injil. Sebagai orang yang telah dimenangkan Kristus maka kita mempunyai dasar memohon hikmat dan pengertian dari Tuhan dan punya tanggung jawab dalam pemberitaan Injil bagi semua makhluk.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Amsal 2 : 1 – 6
Nama kitab ini menurut orang Ibrani adalah “misyle singkatan dari dua kata Ibrani “misyle syelomoh artinya amsal-amsal Salomo (1:1) dalam kitab bahasa Inggris khusus New Inggris Version disebut “Proverbs dari kata sifat proverbial artinya “yang jadi pepatah”. Kalimat-kalimat dalam kitab Amsal memiliki pengertian yang dalam dan luas, bahkan sering dianggap sebagai kata-kata yang berhikmat dalam mendidik dan mengajar.
Amsal 2 : 1 – 6 menekankan bahwa hikmat adalah karunia Allah yang harus direspon dengan cara mencari dengan sungguh-sungguh dan disebutkan bahwa Tuhan merupakan sumber dari segala hikmat dan pengertian.
  • Ayat 1 – 2 : kata ‘anakku’ merupakan alamat permulaan setiap ajaran atau didikan. Pernyataan untuk ‘menerima dan ‘menyimpan’ merupakan hal dasariah dari sebuah didikan yaitu untuk menerima dan menyimpan ‘hikmat’, jadi bukan hanya sekedar mendengarkan saja. Sebab dengan menerima dan menyimpan, berarti sungguh-sungguh mendengarkan sehingga menjadi perbendaharaan dalam diri (hati). Kata ‘hati’ dalam pengertian bahasa Ibrani menunjuk pada kemampuan intelektual, moral serta kemampuan emosional.
  • Ayat 3 – 4 : kepada sang ‘anak’ diharapkan berupaya untuk ‘berseru’ dan ‘menunjukan suara atau “cry aloud” berupaya untuk menyampaikan dengan sungguh-sungguh. Dilanjutkan harus mencari dan mengejar atau “search untuk mencari ‘harta terpendam. Keinginan untuk memperoleh hikmat dan didikan dengan segala daya dan upaya yang berkelanjutan atau terus menerus.
  • Ayat 5 – 6 : merupakan respons atau hasil dari segala upaya yang benar dan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan yang merupakan sumber ‘hikmat’ akan mengaruniakannya; bukan saja pengertian tetapi juga tentang pengenalan akan Allah (the knowledge of God) yang benar atau sesungguhnya.
Kisah Para Rasul 8 : 4 – 8 
Filipus dalam teks ini berbeda dengan salah satu rasul atau murid Yesus lainnya, tetapi merupakan salah satu dari 7 orang pilihan untuk ‘melayani meja’ ( Kisah Para Rasul 6 : 5 dan 21 : 8b ). Filipus terpilih untuk menjadi salah satu pelayan dari jemaat di Yerusalem. Dengan adanya penganiayaan terhadap jemaat di Yerusalem (Kisah Para Rasul 8 : 1b ) termasuk oleh martirnya Stefanus maka Filipus pergi ke Samaria untuk memberitakan Injil. Dalam teks ini pemberitaan Injil oleh Filipus berhasil luar biasa ( ayat 6,7). Filipus akhirnya tinggal menetap di Kaisarea, dan memiliki 4 orang anak gadis yang beroleh karunia untuk bernubuat (Kisah Para Rasul 21 : 8 –9 ).
Dikatakan dalam ayat 5 bahwa Filipus “pergi ke suatu kota di Samaria” hal ini ingin menjelaskan bahwa pada saat itu pemberitaan Filipus hanya di bagian distriknya (bagian dari kota) bukan pada pusat atau kotanya Samaria, karena dalam Kisah Para Rasul 8 : 5 tidak ada kata sandangnya ( dalam New Inggris Version di tuliskan “a city in Samaria” ). Pada masa itu di Samaria hidup orang-orang Yahudi dan orang yang berlatar belakang Yunani. Sejak tahun 67 M ketika Samaria di bakar maka sejak itu orang Samaria mempertahankan hidup sebagai masyarakat minoritas yang sering dianiaya. Selanjutnya misi di Samaria dilaksanakan terutama oleh orang-orang Helennis, sesudah Stefanus mati martir. Filipus memberitakan Injil disertai dengan tanda-tanda berupa, mengusir roh-roh jahat, dan kesembuhan bagi orang-orang lumpuh dan timpang.
Ayat 6 orang-orang di Samaria “mendengar” pemberitaan Filipus, dan melihat tanda-tanda (termasuk mujizat atau keajaiban/miraculous) dan menerima dengan bulat hati pemberitaan Injil tersebut.
Semangat pemberitaan Injil yang luar biasa direspons baik oleh orang Samaria, sehingga pemberitaan Injil tersebut memperoleh hasil yang menggembirakan (ayat 8). Demikianpun pemulihan dan kesembuhan bukan hanya dari segi fisik /badani tetapi yang penting telah dipulihkan yaitu spiritualitas orang-orang percaya ( ayat 6,7).
Makna dan Implikasi Firman
Gereja Tuhan harus tetap menjadi teladan dan berkat bagi “dunia”. Amat terlebih sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh darah Anak Domba Allah sehingga kita telah diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1 : 12). Sebagai orang yang telah dimenangkan dari kuasa dosa dan maut, melalui kebangkitan Yesus Kristus maka Gereja harus menunjukan citra Allah dalam dirinya.
           Ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini sering menjadi tolok ukur manusia modern yang dapat memberi perlindungan(proteksi) dan jaminan hidup. Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dianggap sebagai ‘hikmat’ dunia yang utama. Dengan demikian nilai-nilai Kristiani mulai terabaikan, dan terjadi pergeseran paradigma modern yang mengangap nilai-nilai moral/etika bukanlah berdasarkan dari apa yang dikatakan oleh Alkitab tetapi apa yang dibenarkan oleh dunia. Contohnya : dalam hubungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) maka perkawinan sesama jenis (lesbian, homo sexual) dianggap wajar dan di sebagian negara dilindungi oleh undang-undang HAM; kehidupan freesex dan hamil di luar nikah tidak lagi dianggap tabuh atau dosa.
           Nilai-nilai moral dan agama tidak lagi menjadi ukuran dunia saat ini, karena itu kejahatan dan kekacauan “khaos terjadi di mana-mana; dekadensi moral terjadi bukan hanya dalam hubungan antar masyarakat tetapi juga terjadi di lembaga-lembaga yang ‘sakral’; seperti di sekolah-sekolah, universitas atau perguruan tinggi dan lembaga peradilan dan agama termasuk gereja. Kejadian pelecehan sexual dan penyimpangannya sering kita saksikan di media cetak, elektronik maupun secara nyata di sekitar kehidupan kita.
           Dengan demikian Gereja yaitu orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus harus berupaya untuk mencari dan memperoleh termasuk memiliki hikmat Allah yang sesungguhnya. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini tetapi kita harus berupaya untuk dapat ‘mengubah’ dunia ini sehingga terjadi transformasi Injil yang benar. Kita harus kembali pada Firman Tuhan sebagai sumber segala hikmat. Kita harus berupaya sungguh-sungguh membaca, mempelajari dan menemukan banyak hal dari kesaksian Firman Tuhan. Di samping itu untuk menemukan dan memperoleh “hikmat” yang benar melalui Firman-Nya kita harus memintanya dalam doa, sehingga Roh Kudus akan membimbing dan menuntun kita; baik apa yang kita baca, kita dengar dan yang kita perbuat atau lakukan.
           Jika kita telah memperoleh “hikmat” dari Tuhan maka kita punya tanggung jawab iman untuk menyampaikannya atau memberitakannya dalam bentuk pemberitaan Injil. Niscaya kita akan dibuat berhasil seperti Filipus yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Ingat dalam kesaksian Kisah Para Rasul 6:3, orang-orang percaya yang dipilih adalah mereka yang memiliki ‘hikmat Allah’ yang sesungguhnya yaitu : orang-orang yang terkenal baik, penuh dengan Roh dan hikmat. Sehingga pemberitaan Injil mereka mempunyai kuasa (untuk membebaskan banyak orang dari sakit dan kuasa Iblis); banyak orang yang mendengarkan pemberitaan Injil gereja Tuhan masa kini yang menerima, percaya dan mau bersaksi (Kisah Para Rasul 8 : 6 ). Akhirnya banyak orang yang akan bertobat, diselamatkan dan dimenangkan oleh pemberitaan Injil kita, bukan hanya lewat perkataan tetapi yang terutama lewat perbuatan dan teladan dari semua orang yang percaya kepada Tuhan.
           Dampak dari hikmat dan pemberitaan Injil yang luar biasa adalah ‘sukacita yang besar’ (ayat 8) terjadi di mana gereja melayani dengan kesungguhan hati itulah ‘transformasi Injil’ yang sesungguhnya. Walaupun juga disadari bahwa tantangan dan pergumulan sering menghambat dan terjadi dalam pelayanan tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya. Kristus tetap setia menyertai dan melindungi umat-Nya termasuk hamba-hamba-Nya dan Ia sekali-kali tidak akan mempermalukan gereja-Nya, tetapi memuliakan nya demi kemuliaan dan kerajaan-Nya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI  
  1. Bagaimana kita memahami perikop Amsal 2 : 1 – 6 dan Kisah Para Rasul 8 : 4 – 8 dalam hubungan dengan hikmat dan pemberitaan injil ?
  2. Nilai-nilai apakah yang dapat kita peroleh dan terapkan berdasarkan teks tersebut berkaitan dengan konteks pelayanan kita masa kini ?
  3. Diskusikanlah tentang nilai-nilai tersebut dan buatlah “action plan yang dapat diperbuat gereja (pelayan khusus dan anggota jemaat ).
NAS PEMBIMBING: Kisah Para Rasul 6:3-4
POKOK-POKOK DOA :
  • Pelayan Khusus dan jemaat senantiasa dikaruniakan hikmat Allah
  • Gereja Tuhan dalam Pemberitaan Injil bagi segala mahluk.
  • Transformasi penginjilan terjadi di Sulawesi Utara, Indonesia dan seluruh dunia
TATA IBADAH DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK V (ORATORIUM)
NYANYIAN YANG DIUSULKAN :
Mari Menghadap Hadirat-Nya : NNBT. No. 1 Pujilah Dia, Pujilah Dia
Sesudah Ungkapan Sembah : PKJ No. 2 Agunglah
Sesudah Nas Pembimbing : NNBT No. 2 Dunia Tercipta Oleh Kar’na Tuhanmu
Persekutuan yang Mengaku Dosa : NNBT No. 27 Ya Tuhan, Engkaulah
Jaminan yang Menguatkan : NNBT No. 9 Ku Akan Selalu Bersyukur
Sesudah Doa Mohon Tuntunan Roh: PKJ No. 15 Kusiapkan  Hatiku Tuhan
Berilah Yang Baik : NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan
Tembang Tekad : NNBT No. 26 Tuhan Yesusku, Mutiara Hatiku
ATRIBUT :
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.