Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Rusuh Tolikara bibit konflik SARA terbaru

Foto kejadian menurut Metro TV News
Sobat Hati Pitate,

Postingan ini sengaja saya buat setelah 2 hari dengan tanggal merah benar-benar selesai agar tidak memberikan kesan menodai perayaan Idul Fitri dari umat Muslim di Indonesia. Saya sempat terusik dengan berbagai pemberitaan di dunia maya tentang "Pembakaran Masjid dan Pembubaran Sholat Ied di Tolikara, Papua". Begitu dahsyatnya pemberitaan media sehingga kronologis kejadiannya pun ikut dipelintir hingga terkesan memprovokasi. Belum lagi dengan tambahan gambar yang menyayat hati membuat orang yang membacanya langsung menjatuhkan vonis bahwa Perayaan Idul Fitri telah ternodai.

Saya kemudian terkesan dengan ungkapan dari seorang tokoh Islam Nusantara yang menyatakan "Agama sering dijadikan KESET Politik. Jangan mudah termakan iso HOAX "Konflik Agama". Budayakan membaca, jangan hanya melihat gambar."

Demikian juga dengan kisah Tolikara di hari pertama perayaan Idul Fitri. Kisah sedih merayakan kemenangan karena ternoda dengan isu pembakaran mesjid dan pembubaran jemaah yang sedang sholat Ied. Kisah ini dibumbui dengan cerita bahwa ketika Imam mengumandangkan takbir, kemudian ada kelompok orang yang melempar batu ke mesjid hingga jemaah pada lari mengungsi ke koramil.

Lantas setelah membaca cerita firal di FB dan media lain, teman-temanku yang muslim kemudian pada ikut menyebarkan kisah palsu tersebut disertai komentar keras bernada permusuhan terhadap umat Kristiani. Sungguh bodoh, karena mereka sendiri justru ikut menodai ibadah puasa sebulan penuh yang sudah dijalani dengan ikut menyebar dusta dan fitnah. Dan Ironisnya beberapa kawan umat muslim di Papua justru berkomentar yang sebaliknya.

Makanya jangan asal makan informasi tanpa mau bertanya lebih lanjut dan mencari berita yang bisa mengkonfrontir apa yang kita baca sebelumnya. Berikut beberapa info yang saya rangkum untuk sekedar menambah pengetahuan teman-teman tentang kisah sebenarnya dibalik berita Hoax yang banyak beredar sekarang.
  1. Yang terbakar di Tolikara itu adalah Musholah Baitul Mustaqin (bukan mesjid) yang kebetulan letaknya berdempetan dengan kios-kios yang ada di pasar. Ketika terjadi rusuh dan pembakaran kios disertai penjarahan, Musholah tersebut ikut tersulut api dan akhirnya terbakar. Jadi tidak benar kalau ada usaha sengaja untuk membakar Mesjid.
  2. Kerusuhan dan Pembakran kios tersebut dipicu oleh kemarahan massa karena ada beberapa orang pemuda anggota GIDI yang terluka tembak oleh oknum Polri yang mau jadi pahlawan menenangkan negosiasi yang alot. Penembakan tersebut mengakibatkan setidaknya satu orang pemuda usia sekolah yang tewas. Wajar dong kalau akhirnya massa jadi marah dan ngamuk.
  3. Para pemuda GIDI yang datang tersebut dalam rangka negosiasi tentang penggunaan speaker/TOA untuk sholat Ied karena tidak jauh dari lokasi tersebut adalah tempat pelaksanaan Seminar Rohani Pemuda GIDI yang dihadiri oleh ribuan anggota pemuda GIDI se-Indonesia. Asumsi saya bahwa di saat yang sama (pagi hari) pasti ada ibadah pagi seperti yang memang biasa dilakukan dalam acara-acara kerohanian pemuda Kristen.
  4. Tidak benar ada upaya pelarangan untuk Sholat Ied di wilyah Papua, karena di seluruh wilayah Papua, umat muslim tetap bisa menjalankannya, bahkan dengan pengamanan dari pemuda Gereja. Silahkan cek link ini Pemuda Kristen amankan lebaran.
  5. Pemerintah telah menangani kasus ini dengan baik, bahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla telah memberikan pernyataan dengan jelas. Baca di sini. Dan dilengkapi juga dengan permintaan maaf Presiden Jokowi lewat Staf khusunya, Lennis Kogoya.
  6. Menteri Agama pun menanggapi ajakan FPI untuk berjihad ke Papua sebagai ajakan yang provokatif. Sebaliknya beliau meminta agar tokoh-tokoh dan umat muslim agar lebih arif dan dewasa menanggapi peristiwa ini. Baca komentar beliau di sini.
  7. Sudah ada kesepakatan damai antara masing-masing pihak yang bertikai yang ditandatangani pada tanggal 18 Juli 2015, tepat sehari setelah peristiwa tersebut terjadi. Baca beritanya di sini.
  8. Begitu kompleksnya permasalahan yang ada di Tolikara, termasuk isu Gerakan Papua Merdeka, membuat masalah seperti ini sangat sensitif. Karenanya harus diselesaikan dengan cara tepat hanya oleh orang Papua sendiri.

Nah semoga fakta-fakta di atas bisa diterima baik oleh teman-teman dan saudara-saudari umat muslim di Indonesia. Semoga tidak akan ada lagi yang emosional bila menanggapi berita-berita dari Tolikara. Janganlah terlalu keras berkomentar apalagi menambah bumbu penyedap pada informasi tentang rusuh di Tolikara.

Secara khusus untuk semua teman dan saudara umat muslim di Manado, SAYA HIMBAU untuk tetap tenang. Jangan mengangkat masalah ini secara berlebihan apalagi berkomentar dengan nada provokasi. Karena kami pun tidak melakukannya ketika mendengar kabar tentang penutupan, pengrusakan, serta pembakaran Gereja di tempat lain di luar Sulawesi Utara. Mari jaga kerukunan dan persatuan di antara kita.

Jemaah melakukan Sholat Ied di halaman Gereja

Presiden Jokowi memukul bedug saat melepas pawai takbiran di Aceh.


Mari kita meneladani sikap baik yang ditunjukkan Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, Malang, yang dengan sukacita memberikan halaman Gereja mereka sebagai tempat pelaksanaan Sholat Ied, atau kita contohi sikap toleransi perayaan Idul Fitri Presiden Jokowi di Aceh yang juga ikut melibatkan ornamen-ornamen Kristen di Bedug yang dipakai. Betapa indahnya kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian, karena ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat-berkatNya dicurahkan.

Sebagai penutup saya tetap mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1436 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin buat semua teman, saudara, kerabat, dan kenalan, umat muslim yang berbahagia di mana pun berada. Tuhan Yesus Memberkati.


2 komentar:

  1. Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan mengatakan, anggota TNI bersama kepolisian dan masyarakat kini sedang bergotong royong menyiapkan lahan untuk dibangun masjid yang lokasinya dipindahkan ke dekat koramil.

    Baik masjid maupun kios tidak lagi dapat dibangun di lokasi semula karen kepemilikan lahannya tidak jelas sehingga dipindahkan ke lokasi yang dinilai lebih baik.

    “Untuk kios nantinya dibangun di bekas kantor bupati lama,” kata Mayjen TNI Siahaan di Jayapura, Rabu (22/7).

    Saat ini 153 jiwa warga korban penyerangan/pembakaran kios/rumah dan masjid itu masih mengungsi di Koramil Karubaga.

    Sebelumnya, Sebanyak 153 jiwa warga korban penyerangan/pembakaran dalam insiden Shalat Idul Fitri di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7) pagi membutuhkan bantuan pakaian layak dan sejenisnya.


    TNI dan Polri Relokasi Masjid yang Dibakar

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.