Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Renungan Natal 25 Desember 2015 se-Sinode GMIM

TEMA MINGGUAN:“Yesus, “Hadiah” Allah Bagi Dunia”
Bahan Alkitab : Matius 1:18-25

Syalom,

Perayaan natal Yesus Kristus selalu diwarnai dengan kegembiraan dan sukacita, seluruh umat Kristen meraya-kannya, karena perayaan ini memiliki makna iman yang dalam dan tidak sekedar luapan kegembiraan semata.

Perikop ini menceritakan kelahiran Yesus Kristus sebagai rencana Allah bagi penyelamatan umat manusia. Di mana Maria yang bertunangan dengan Yusuf mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Pernyataan ini tidak bermaksud mengajarkan anak-anak muda untuk melegalkan atau membenarkan seks bebas sebelum pernikahan sebab catatan akhir bacaan ini menjelaskan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria, melainkan untuk memperlihatkan kuasa Allah yang bekerja.

Maria mengandung dari Roh Kudus. Mengandung sebe-lum menikah tentu merupakan beban pergumulan yang berat. Apa kata dunia??? Sanggupkah Maria menerima cemoohan masyarakat? Ketika Yusuf, suaminya (=tunangan), seorang yang tulus hati berkeinginan menceraikannya dengan diam-diam, memberi surat talak di depan dua saksi.

Status pertunangan di masa itu adalah ikatan resmi, karena itu hanya perceraian yang dapat memutuskannya. Ketidaksetiaan semasa pertunangan dianggap zinah. Tidak heran kalau Yusuf tidak mau mencemarkan nama isterinya. Secara manusiawi hal ini wajar, kalau Yusuf tidak mau bertanggung jawab sebab Maria mengandung bukan karena perbuatannya. Perlakuan Yusuf ini karena ia tidak mengerti bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus dan bukan oleh perbuatan manusia.

Dari sinilah makna ilahinya kita renungkan, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpi kepada Yusuf sewaktu ia mempertimbangkan maksudnya. Mimpi dalam konotasi ini adalah jalan menerima bimbingan, dan bukan cara tepat meramalkan masa depan dan mencari keberun-tungan, supaya menang lotere atau togel.

Yusuf menjadi bapa bagi Yesus, ini merujuk pada penggenapan nubuat Nabi dalam Perjanjian Lama,  Juru-selamat lahir dari keturunan Daud, itulah  legalilitas hukum. Hal yang pertama yang harus dilakukan Yusuf adalah menyingkirkan ketakutan yang dirasakannya. Ini berkaitan dengan konsekwensi dan perasaannya sebagai sosok pemuda yang tulus dan polos. Ia rela melakukannya  karena keta-atannya kepada Allah.

Ketaatan Maria dan Yusuf menjadi model hidup bagi setiap orang percaya, termasuk pemuda dan remaja. Bentuk ketaatan ini lahir dari keyakinan bahwa kehendak Tuhan di atas segala-galanya.

Ada dua kali ditegaskan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Penekanan ini menyatakan pekerjaan Allah, karena itu, Ia dinamai  Yesus (Ibr.: Yeshua =Tuhan menyela-matkan), Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Yesus adalah hadiah terbaik Allah bagi manu-sia. Ialah Juruselamat bagi dunia. Semua orang membutuh-kan keselamatan dari Tuhan, yang melepaskan mereka dari cengkeraman kuasa dosa yang membinasakan. Dosa meru-pakan musuh terbesar umat manusia.

Perayaan natal YESUS KRISTUS dirayakan sebagai perwu-judan kegembiraan umat manusia atas anugerah Allah melalui kelahiran Yesus Kristus. Namun sayang sekali, perayaan ini telah bergeser dari makna rohaninya kepada implikasi praktis yang mengumbar kegembiraan dan pesta pora. Perayaan natal kita menjadi perayaan sekuler dengan simbol rohani; kandang hewan, palungan, dan lampin usang, hanya sekedar simbol belaka (Bahasa Manado =prong) dan maknanya tidak menyentuh realitas perayaan kita. Kita menjadikan perayaan ini berpusat pada diri kita sendiri, dan bukan pada Yesus.

Pemaknaan tentang kasih Allah, ketaatan, kerendahan hati dan kesederhanaan hanya sebatas khotbah saja, sebab hal ini telah berubah menjadi perayaan bergengsi, yang menunjukkan kehebatan kita. Orang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk membeli baju, sepatu, mengecat rambut, mem-beli hiasan natal, meubel, gorden, makanan dan minuman dari pada menyisihkan dana untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatan Allah bagi dunia, seperti membangun sekolah, membantu yang miskin, yang terpinggirkan dan mereka yang terkurung dalam dosa. Kalaupun ada, porsinya hanya sebagian kecil bahkan mungkin sisa dari uang belanja dan pesta kita. Itupun sering hanya dari kita untuk kita; pembagian diakonia natal; beras, minuman yang ditujukan bagi anggota kolom/jemaat yang rajin saja. Tidak pernah dari kita untuk “orang lain” yang belum tersentuh oleh kasih kemurahan Tuhan yang menyelamatkan.

Perayaan ini menjadi ajang bergengsi, untuk memamer-kan gaya hidup konsumtif kita dan tidak lagi memancarkan kekudusan, ketaatan dan kesederhanaan hidup. Jujur kita akui bahwa pemborosan, pemabukan, dan perjudian lebih banyak terjadi di hari natal, hari yang kudus ini. Tiap hari merayakan ibadah menyambut natal namun tidak menyentuh keberimanan kita. Dosa-dosa tahunan makin bertambah bukan berkurang.

Apa yang salah? Tentu bukan Natal Yesus, tapi cara kita yang keliru. Image kita tentang natal identik dengan pesta, bahkan menjamurnya pengguna kartu kredit, tukang ba bon nda pernah abis. Daya beli masyarakat kian meningkat, dan tuntutan keinginan makin tinggi. Bila kita terbiasa menggu-nakan kartu kredit, gesek dan gesek, maka bukan sukacita yang akan kita rasakan, melainkan sepanjang tahun hidup kita akan tergesek – gesek. Baru terima gaji langsung bayar utang. Hidup seperti ini membawa diri dalam tekanan atau cobaan.  Kita perlu merubah “mindset(pola berpikir) kita dalam merayakan natal, dengan mengembalikannya pada tataran nilai awal, rencana Allah untuk menyelamatkan kita dari dosa dan bukan untuk menghadirkan “dosa-dosa baru” dalam konteks“sekali setahun” atau kalau ada tada kalau abis haga.

Nama Imanuel (Yunani = Emmanuel) berarti Allah me-nyertai kita, diberikan mereka kepada Yesus. Siapa mereka?  Tidak diceritakan siapa yang memberikan nama ini kepada Yesus, namun kata mereka menunjuk kepada umat manusia yang menerima Yesus sebagai pengenapan janji Allah. Konotasi pemberian nama ini berkaitan dengan peran/fungsi. Allah hadir senantiasa dalam diri anak-Nya untuk berada bersama kita. Allah ada untuk kita. Dialah Imanuel, di dalam Yesus Kristus.

Kalau demikian, Yesus bukan hanya kado Allah di hari natal, setiap tanggal 25 Desember, melainkan hadiah sepan-jang hidup. Allah yang menyertai kita; di mana pun, kapan pun dan dalam suasana apapun. Allah memberikan kita Yesus sebagai perwujudan penyertaan-Nya yang tak berkesudahan, selalu setia mendampingi kita,  siang – malam, suka – duka, sehat – sakit. Untuk itulah kita harus bersyukur dan bersorak-sorak bagi Tuhan.

Kesukacitaan itu tidak boleh terkurung pada ruang kita, rumah kita, kolom kita, gereja kita saja, tapi harus menyentuh realitas hidup kita setiap hari dan kepada setiap orang yang kita jumpai. Kita tak perlu menjadi “senterklas” tahunan, ODN (orang dermawan Natal), Mama dan papa ani Donat (doi natal), tapi kita perlu menghadirkan kehendak Kristus di sepanjang waktu (Long life for Christ).

Maukah kita melakukannya? Yusuf dan Maria menjadi contoh bagi kita. Mereka bersedia memikul tanggung jawab dengan segala konsekwensinya. Kiranya kita pun mau melakukannya sebagai perwujudan syukur dan terima kasih atas hadiah  Allah yang terbaik, yaitu Yesus Kristus, sang Imanuel.  Selamat hari natal. Amin.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.