Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Kesendirian itu tidak buruk buat para pria

Sobat Hati Pitate,


Sejak awal penciptaan manusia Allah sendiri berfirman " Tidak baik kalau dia (laki-laki/pria) hidup sendirian", setidaknya seperti itu makna kalimatnya. Kemudian ditambah lagi dengan pandangan bahwa manusia iti adalah mahluk sosial. Membuat kita berpikir bahwa manusia itu ditakdirkam hidup dalam kumpulan manusia dan tidak bisa hidup di luar lingkungan sosialnya.

Kita selalu merasa dimiliki, merasa kuat saat bersama, akrab saat bisa berbagi dengan orang lain, dan berbagai rasa lainnya sebagai dampak dari hidup bersama dalam kelompok manusia. 

Kisah hidup Yesus pun dengan jelas bahwa Dia pun hidup dalam interaksi dengan manusia lainnya. Yesus juga merekrut murid-muridnya dan selalu berjalan dalam kelompok manusia. Hingga hadirlah kisah Yesus memberi makan 5.000an orang.

Tapi yang menarik, ada beberapa cerita Alkitab dimana Yesus memanfaatkan momen kesendiriannya. Saat Dia di padang gurun, di seberang Galilea, atau di taman Getsemani. Yesus menunjukkan keuntungan saat Dia sedang sendiri. Dia bisa berbicara kepada Bapa, Dia dikuatkan oleh malaikat, dan yang utama, Dia bisa mengecharge diriNya saat sendiri.

Bagi saya pun yang menulis artikel ini, keadaan sendiri justru banyak merubah diri dan cara berpikir saya. Malahan dalam kesendirian, saya banyak mendapatkan pengalaman khusus. Berikut ini beberapa poin penting yang bisa anda alami dalam kesendirian.



Dalam kelemahan menemukan keutuhan

Saat dalam momen bersama banyak orang, kita sering mendapati bahwa kita tidak mampu menghadapi berbagai riak yang muncul. Kita susah beradaptasi atau berhadapan langsung konflik dalam kelompok, karena ternyata kita memiliki kekurangan dalam hal mencari jalan keluar yang tepat. Ujung-ujungnya malah kita yang akan dikucilkan oleh kelompok pergaulan kita karena kurang pandainya kita dalam hal itu. Tapi tahukah anda? Hal ini justru sangat baik buat pria. Karena saat dikucilkan hingga harus sendiri, kita akan mengerti bahwa kita masih banyak kekurangan.

Diam tenang juga adalah kerja pada dasarnya

Ternyata untuk merasakan ketenangan butuh usaha yang lumayan. Sebenarnya ketenangan adalah sebuah pilihan tapi sekaliguh harus diusahakan dengan serius. Anda yang sudah pernah jadi orang tua dan punya anak, pasti tahu akan hal ini, betapa susahnya mendapatkan ketenangan di tengah berbagai keributan di rumah. Karena harus mendiamkan sumber keributan dan tegas memberikan perintah untuk diam. Hal ini berbeda jika kita dalam kesendirian. Dalam kesendirian kita justru dengan mudah mendapatkan ketenangan.


Suasana yang serba aneh

Ketika awal kita masuk di tahap kesendirian, pasti akan terasa aneh dan rancu. Hanya diri kita sendiri dalam ruangan sepi, menatap langit-langit ruangan, tiduran di lantai, diam tanpa melakukan apa pun, dan yang ada posisi ini terasa konyol bagi kita. Ini biasa terjadi ketika baru masuk dalam tahap kesendirian. Saya sendiri saat awal ditinggalkan istri, merasa aneh dan kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi saat itu saya melakukan hal yang sederhana, yaitu mengatur pernafasan saya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, begitu terus beberapa kali. Saya menghindari dulu pikiran yang macam-macam bahkan cenderung tidak mau banyak berpikir dulu karena kelelahan. Kalau pun tiba-tiba muncul suatu hal dalam benak, maka saya akan langsung membuangnya dulu, kembali lagi mengatur pernafasan.

Tersadar dari keanehan

Proses pengaturan pernafasan yang berulang tadi kemudian perlahan-lahan membawa ketenangan dalam pikiran saya. Dengan melakukan hal ini berulang-ulang saya akhirnya mulai tahu kalau efek gerakan dada yang naik turun, udara yang keluar masuk ke hidung serta paru-paru, merupakan irama yang bisa melepaskan tekanan, tegangan, bahkan kekuatiran yang sebelumnya menumpuk di pikiran hingga menekan jiwa. Hingga akhirnya saya sadar bahwa apa yang saya rasa sangat besar dan berat itu sebenarnya hanya sebuah hal kecil. Sangat-sangat kecil jika dibandingkan kuasa Allah Bapa yang selama ini sangat mengasihi saya.

Perhatian saya mulai beralih dari masalah kepada kasih Tuhan yang selama ini saya terima. Tanpa sadar gerakan menarik nafas dan mengeluarkannya lagi sudah mencapai ribuan kali. Dan bagai sebuah mujizat tanpa kita ketahui sebenarnya kita sedang terkoneksi dengan Tuhan hanya dengan mengingat KasihNya yang besar, PertolonganNya dalam hidup kita, serta KuasaNya yang luar biasa. Ajaib bukan? Kasih, Pertolongan, dan Kuasa yang sama itu kemudian akan mengambil alih pikiran kita dan menghasilkan sebuah pemikiran atau ide yang mungkin tidak terpikir sebelumnya, ide ini biasa kita sebut "Jalan Keluar".

Kok bisa? Ya bisa, karena saat kita diam dalam kesendirian serta mengingat Allah Bapa, sesungguhnya kita sedang mencharge diri kita dengan terkoneksi pada Sumber Segala Sumber Kehidupan.

Kejelasan dalam kesendirian

Kini jelas bahwa dalam kesendirian kita kembali mengingat berbagai hal dari Allah yang selama ini kurang kita perhatikan. Dalam semua aktifitas yang kita lakukan menyebabkan kita tidak melihat dan cenderung lupa siapa yang ada di samping kita, siapa yang selalu ada untuk kita, siapa yang terbesar bahkan terkuat, jauh melebihi pergumulan yang kita lihat terus menerus setiap hari.

Di saat sendiri dan tenang kita bisa mengerti bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk gentar menghadapi pergumulan. Siapa pun diri kita dalam hidup keseharian tidak menjadi penghalang bagi Allah Bapa. Dia akan selalu mengejar bahkan hanya agar supaya terhubung dengan hati kita tanpa memandang siapa diri kita. Karena Dia ingin memberi kita kuasa untuk menaklukan masalah dan pergumulan hidup.


Membangun komunikasi tanpa kata dalam kesendirian

Saya akhirnya jadi semakin sering berlatih dalam kesendirian. Saya akan diam, mencari kejelasan sampai beberapa waktu lamanya, mengurangi beban pikiran, serta membiarkan Allah lewat Roh Kudus menghibur, menguatkan, dan mengisi kembali hati, pikiran, dan jiwa saya. Walau sedang berdiam diri, saya merasa sedang mengkomunikasikan kekurangan atau kekuatiran saya. Dalam kesendirian, saya membuka hati, pikiran, dan jiwa kita untuk menerima perhatian serta jawaban Allah yang supranatural. Dia tahu apa yang kita perlukan lebih dari yang kita perkirakan. Tugas kita hanyalah datang dan membuka hati padaNya,

-----
Bandingkan dengan apa yang ditulis oleh para nabi dalam
  • Yes. 30:15
  • Mzm. 116 : 7
  • Mzm. 131:2


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.