Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Nasib si Koin...

Inilah hebatnya bangsa Indonesia, dari satu pernyataan saja bisa mengeluarkan makna berserta dampak yang beragam. Ketika Ibu Prita terjerat tuntutan ganti rugi dari RS Omni Internasional atas tulisannnya, rakyat pada rame-rame mengumpulkan uang koin untuk membantunya. Dan benar saja jumlah yang terkumpul bisa menutupi jumlah tuntutan terhadapnya. Dan lebih untung lagi tuntutan itu ditarik sehingga tidak ada Petugas Rumah Sakit yang harus disibukkan untuk menghitung koinnya ibu Prita tersebut. Semuanya berakhir bahagia...

Tetapi di awal tahun 2011 uang koin kembali menjadi perbincangan hangat. Tapi kali ini tidak untuk korban ketidakadilan, melainkan untuk orang nomor 1 di Indonesia. Tidak ada tuntutan atau permintaan manapun yang memicu gerakan pengumpulan koin kali ini. Tetapi ada sebuah pernyataan Pak SBY yang kemudian dikonotasikan sebagai keinginan untuk naik gaji. Coba kita lihat pernyataan Pak SBY selengkapnya.


JAKARTA, KOMPAS.com  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan pengarahan pada Rapat Pimpinan TNI dan Polri di Gedung Balai Samudra Indonesia, Jakarta, Jumat (21/1/2011), mengatakan, pemerintah berkomitmen memerhatikan kesejahteraan anggota TNI dan Polri.

Pemerintah, kata Presiden, berkomitmen meningkatkan gaji dan remunerasi anggota TNI dan Polri setiap tahun. Hal ini dilakukan dengan tujuan mendorong anggota TNI dan Polri lebih berprestasi dan berkinerja. Kesejahteraan anggota TNI dan Polri selalu menjadi salah satu perhatian pemerintah.


"Bahkan ini tahun ke-6 atau ke-7 gaji Pesiden belum naik," kata Presiden di depan jajaran petinggi Mabes TNI dan Mabes Polri.
Presiden menyampaikan, peningkatan gaji dan remunerasi bukanlah retorika, janji-janji palsu, apalagi kebohongan. "Hidupkan tabungan wajib perumahan. Adakan skema agar prajurit bisa mendapatkan perumahan yang layak, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saya sadari saat ini masih ada masalah soal perumahan prajurit," kata Presiden.

Nah dari pernyataan inilah kemudian menjadi bahan telaahan para ahli di bumi Indonesia, bahkan beberapa kelompok di antaranya kemudian mengambil inisiatif untuk mengumpulkan uang-uang koin untuk Pak Presiden kita. Beberapa orang menganggap pernyataan beliau tidak pantas dan menjadi beban tersendiri buat rakyat Indonesia. Sebaliknya dari beberapa sekutu Pak Presiden seperti Pak Anas Urbaningrum justru menyatakan kalau pengumpulan koin untuk presiden adalah bentuk sinisme politik yang terlalu bernafsu dan tidak mengesankan.

Koin-koin utk SBY
Walau agak terlambat sebenarnya, Hati Pitate juga tidak mau kalah untuk mengomentari tema ini. Pertama, sebenarnya di mana salahnya kalau ada seorang "karyawan" yang mengeluh mengenai gajinya yang tidak naik-naik selama 6 - 7 tahun dia bekerja. Buat saya itu normal sekali malah, dan lebih baik dia minta naik gaji dari pada mulai menggunakan uang kantornya karena kurang puas dengan gaji. Memang secara umum pak presiden mungkin tidak berkekurangan dalam hal fasilitas pendukung hidupnya. Semuanya tersedia bahkan lebih dari cukup buat kebutuhannya. Tetapi bukankah naik gaji  merupakan bentuk reward bagi seorang karyawan yang sudah memberikan loyalitas dan prestasi bagi tempatnya bekerja. Jadi gampang saja, kalau memang dia terbukti loyal dan berprestasi, berikan dia penghargaan berupa kenaikan gaji. Jangan ditahan-tahan masalah kenaikan gaji, bisa-bisa dia mulai korupsi.

Kedua, urusan pak presiden bicara di depan publik buat saya lumrah saja. Mungkin dia ingin mengadukan nasibnya yang tidak diperhatikan selama ini. Malahan menurut Jusuf Kalla, rencana perubahan gaji presiden sudah jadi wacana sejak tahun 2006 tapi sampai hari ini belum terlaksana. Jadi wajar kan kalo SBY kemudian sekedar mengingatkan kemungkinan pelaksanaan tindak lanjut dari program 2006. Namun dilihat dari pemberitaan Kompas di atas, maka bisa dengan jelas diketahui kalau tidak ada unsur "meminta naik gaji" dari ucapan SBY. Buat saya ini merupakan ucapan yang memotivasi para prajurit TNI dan POLRI agar lebih berprestasi supaya Pemerintah tidak ragu untuk menaikkan gaji. Dia membandingkan dengan dirinya yang walaupun belum naik gaji tapi dengan penuh kerja keras melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara. Entah karena tidak mendengar secara langsung atau sekedar "iko rame" beberapa orang menafsirkan ucapan beliau secara berbeda. Terlalu banyak orang pintar di negeri ini yang mengolah ucapan beliau menjadi bentuk permintaan naik gaji.

Ketiga, gerakan pengumpulan koin untuk pak presiden juga sangat wajar buat saya. Coba saja anda yang sudah mendengar keluhan tetangga saat kekurangan dan anda memiliki kelebihan, pasti secara sosial anda memiliki kerinduan untuk membantu sampai sejauh mana kemampuan yang anda miliki. Cuma bedanya bantuan untuk pak SBY sudah terlalu didramatisir sedemikian rupa hingga kelihatan mengenaskan. Kalau mau jujur mungkin tidak ada yang akan kasih uang ke presiden, bahkan malah sebaliknya lebih banyak yang minta bantuan dana dari presiden. Dan yang jadi korban adalah para koin yang sudah masuk ke berbagai kotak pengumpulan koin. Kenapa begitu? karena saya yakin kalau ini hanya phobia sementara dan koinnya juga tidak akan sampai hati untuk singgah ke kantong pak presiden. Kasihan kan... akhirnya juga hanya akan masuk ke kantong-kantong orang yang tidak bertanggung jawab.

Keempat, Pak Anas bilang kalau kalau ini adalah sebuah sinisme politik dan dia yakin kalau Pak SBY tidak akan terlalu peduli dengan koin-koin tersebut. Nah, buat saya lain lagi, sekedar saran saja buat Pak Presiden segera bentuk tim khusus, seperti kebiasaan bapak, untuk mengkoordinir koin-koin yang terkumpul. Koin-koin ini harus diambil dari para pengumpul karena itu semua uang rakyat. Kalaupun bapak tidak mau menerimanya sebagai tambahan gaji, masukkan saja untuk Penerimaan Negara non-Pajak yang kemudian diperuntukkan sebagai dana bantuan sosial bagi gerakan pengumpulan koin di masa yang akan datang. Siapa tahu saja ada gerakan lain yang akan muncul. 

Bagaimana dengan nasib para koin? akh... di tengah banyaknya kekurangan negara kita, tapi ternyata masih tega untuk menyindir orang dengan koin. Banyak orang mungkin lupa kalau di masa lalu banyak orang, termasuk saya, menjadi pengumpul koin lewat celengan. Begitu berharganya si koin sampai-sampai dikumpulkan dengan begitu teliti. Tapi sekarang koin hanya menjadi bahan ejekan dan sindiran....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.