Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Seri Cerita EDO : Hati Seluas Samudera

Sebenarnya aku tidak mau bercerita tentang ini, tapi karena temanku, si Stanly, terus mendesak agar aku mau membaginya, dengan berat hati aku akhirnya setuju saja untuk menceritakan. Aku merasa berat untuk membahas kisah ini karena secara tidak langsung berarti aku sedang menggunjingkan orang lain, yang notabene adalah teman-temanku sendiri. Namun di sisi lain, aku pun berpikir siapa tahu saja dengan membaca kisah ini ada beberapa orang yang akan merasa diberkati dan menarik pelajaran darinya.

Judul "Hati Seluas Samudera" bukan asal dipilih, tapi ini benar-benar menceritakan bagaimana besarnya pengaruh hati yang lapang dan luas dalam menghadapi hidup, terhadap keadaan hidup bahkan masa depan seseorang.

Aku punya dua orang teman perempuan, yang satu bernama MERRY, dan yang satu lagi bernama JOANE. Dua orang perempuan tegar yang telah membuktikan diri mampu menghadapi beban hidup yang berat, dan masih terus berdiri menantang derasnya arus kehidupan. Dua teman ini, masing-masing sudah berkeluarga dan punya anak. Bahkan umur keluarga mereka jauh lebih tua dari keluargaku. Awal kehidupan keluarga mereka sangat bahagia, semua diwarnai dengan senyum dan canda tawa. Hingga akhirnya kedua keluarga ini makin berwarna hidupnya dengan kehadiran beberapa orang anak, buah cinta mereka. 

Merry memiliki 2 orang anak dan Joane sendiri memiliki 3 orang anak. Anda tentu bisa membayangkan betapa bahagianya kehidupan kedua keluarga ini. Walau tergolong keluarga yang masih muda, namun kedua keluarga ini seringkali dipuji dalam perbincangan teman-teman mereka. Semua orang senang dengan mereka.
Sampai suatu saat, kedua wanita muda ini menemui masalah yang sama. Kedua suami mereka harus pergi meninggalkan istri dan anak-anak karena adanya tugas dan pekerjaan yang memanggil. Mereka harus bekerja di luar pulau dan bahkan ke luar negeri. Di sinilah masalah mulai timbul bagi kedua pasangan ini. Merry dan Joane sama-sama mulai sering ditinggal oleh kekasih hati mereka. Mulai dari jangka waktu sebentar yaitu dua atau tiga hari, hingga akhirnya mereka harus mengalami perpisahan dalam waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.

Merry dan Joane mulai sama-sama merasakan kurangnya perhatian dari suami dan betapa sulitnya harus menjalankan semua urusan rumah tangga seorang diri dan hanya dibantu oleh anak-anak yang masih kecil. Sementara itu suami-suami mereka pun mulai menghadapi pertempuran batin, hanya saja suami Merry bertahan dalam kesetiaan pada cintanya terhadap Merry, sedangkan suami Joane akirnya berpaling dari istrinya karena bertemu dengan mantan pacar di perantauan.

Bulan demi bulan keadaan ini terus berlangsung, hingga akhirnya Merry dan Joane yang haus perhatian dari suami-suami mereka, pun tergoda untuk menjalin cinta dengan laki-laki lain yang hadir membawa cinta di saat yang tepat. Dua orang ibu muda ini akhirnya bergelut dengan dua kehidupan yang masing-masing harus dijalani dengan ekstra hati-hati. Suasana dalam rumah tangga mereka pun mulai terasa hambar.

Aku tidak bisa bercerita lebih panjang lagi tentang apa yang mereka alami. Masing-masing harus melalui masa-masa yang penuh canda dan rayu bersama Pria Idaman Lain, sekaligus juga hari-hari yang penuh dusta dan air mata dengan keluarga sendiri. Dan ini dilalui bukan hanya dalam waktu sekejab, tetapi berlangsung lama hingga hampir mendekati masa dua tahun. Dan seperti kisah pengkhianatan yang lain, Merry dan Joane juga akhirnya tidak bisa lagi menutupi permainan cinta mereka dari hadapan suami dan anak-anak. 

Joane dan suaminya akhirnya terlibat dalam pertengkaran yang tiada habisnya. Sang suami mati-matian menyalahkan Joane, tapi di sisi lain Joane juga membela diri dengan alasan, si suami yang lebih dulu mengkhianati cinta mereka. Pertengkaran pun mulai merek alami, dari pertengkaran mulut hingga ke adu fisik dan mengarah pada kekerasan satu sama lain. Joane tidak memungkiri atau mengelak dari kesalahannya, malah dia berkeras untuk berpisah dari suaminya karena tidak cocok lagi. Sementara si suami juga bertahan dalam bentakan-bentakan dan pukulan tanpa mau melepas Joane meninggalkannya karena malu dengan kedua keluarga besar mereka. 

Mereka sampai saat ini masih tinggal serumah tapi dengan rasa curiga dan benci yang luar biasa dalam antara satu sama lain. Bahkan dari kabar terakhir yang aku dengar, Joane sedang bersiap untuk meninggalkan keluarga dan kampungnya karena tidak tahan dengan perlakuan suami yang semakin menjadi. Dia merasa selalu disalahkan dan ditekan, sementara si suami juga terus melanjutkan hubungan gelap dengan mantan pacar di kejauhan. Bukan main sakit dan pedihnya hidup Joane dari hari ke hari.

Bagaimana dengan Merry?

Merry telah kembali hidup tenang dengan suami dan anak-anaknya. Dia mengambil keputusan untuk meninggalkan si PIL dan kembali pada suaminya. Dia membuat pengakuan sejujur-jujurnya kepada suami. Menurut Merry, awalnya memang rasa malu dan rasa bersalah sering menghalangi keinginannya untuk berbicara jujur dengan suami. Tapi entah mengapa, sang suami semakin hari semakin sabar untuk duduk di sampingnya mendengar keluh kesahnya bahkan tangisannya yang sebenarnya untuk menutupi rasa malu terhadap si suami. Bahkan dengan penuh kesabaran, dia juga menerima permintaan maaf dari Merry dan berjanji akan lebih memperhatikan keluarga di masa yang akan datang.

Merry pun akhirnya bisa melupakan kejadian buruk dalam hidupnya ini, sementara sang suami tetap berdiri sebagai seorang suami yang selalu memandang istrinya dengan rasa cinta dan kasih sayang seperti di masa-masa awal mereka menikah. Aku yang sering berbicara dengan Merry bersama suaminya, sampai hari ini merasa kagum dengan kebesaran hati dari suami Merry yang tetap mau menerima dan memaafkan Merry walaupun kesalahan yang dibuatnya terlalu besar. Pernah sekali aku bertanya pada suami Merry tentang hal ini. Mengapa dia masih tetap menerima dan memaafkan Merry? Simak jawabannya:

"Edo, aku tahu kalau dia (Merry) melakukan hal itu karena dia butuh orang untuk bicara, berbagi, dicintai dan mencintai, serta sebagai figur yang bisa menjaga dan melindunginya. Dan akulah yang paling bersalah dalam hal ini karena tidak bisa menjadi figur-figur itu untuknya. Aku sadar aku justru yang paling bertanggung jawab dan membuat dia akhirnya mencari kebutuhannya itu dari orang lain. Kalau akhirnya aku memarahi dan membencinya, justru aku akan jadi orang yang paling bodoh dan paling sial di dunia ini. Kalau saja aku selalu ada di sampingnya sebagai suami yang dirindukannya, pasti hal itu tidak akan terjadi" suami Merry menjelaskan semuanya ini dengan diakhiri senyum kemenangan.

Ya, dia menang dari si Pria Idaman Lain, menang dari perceraian, menang dari rasa benci dan marah, menang dari kekerasan dan pertengkaran dalam rumah tangga, menang dari keegoisan, dan yang paling penting dia berhasil memenangkan kembali hati istrinya dari orang lain. Dan semua itu bisa terjadi karena dia mau berbesar hati dan meluaskan tempat dalam hatinya untuk kembali ditempati sang istri, walau telah mengkhianatinya, Dari kesalahan istrinya itu, dia tidak justru marah, benci, dan menyalahkan si istri, tetapi sebaliknya dia mengintrospeksi diri dan belajar dari kesalahannya sendiri.

Kini mereka sangat bahagia dalam keluarga mereka bahkan Merry banyak berbagi dan menguatkan teman-temannya yang dalam masalah atau setidaknya sedang menuju masalah yang sama. Aku hanya bisa takjub dengan apa yang dialami oleh kedua temanku ini. Sangat berbeda hasilnya hanya karena satu perbedaan, yaitu karena tidak bisa menerima dan memaafkan.

Akhir-akhir ini, banyak sekali keluarga yang akhirnya hancur oleh masalah-masalah serupa. Dengan perkembangan jaman yang semakin maju dan modern, memang tantangan terhadap keluarga semakin besar. Tapi saya yakin, seandainya kita masing-masing mampu menerima dan memaafkan kekurangan dari pasangan kita sambil berusaha mengatasinya bersama, maka akan ada banyak keluarga yang terindar dari kehancuran. Mari selamatkan keluarga kita.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.