Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Seri Cerita EDO : Opal Yang Sabar


Setelah beberapa lama tidak ketemu, beberapa hari yang lalu si Stanly tiba-tiba muncul di rumah. Dan seperti biasa, kalau sudah datang dianya pasti minta partisipasi lagi utk Hati Pitate. Agak kesal juga sebenarnya karena dia baru hubungi aku kalau lagi butuh tambahan bahan buat weblognya. Tapi tak apalah, itung-itung ngasah kemampuan buat aku.

Dan bukan kebetulan juga hari ini aku dihubungi sama temanku yang sudah lama banget tidak ketemu. Maklum kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan, jadi sempat putus komunikasi lama.

Aku ingin sekali berbagi kisah ini sejak lama, tapi sayangnya justru lebih sering lupanya. Ini kisah tentang temanku yang sering aku panggil Opal. Semoga saja dia tidak marah kalau cerita hidupnya aku bagikan sedikit sama Sobat Hati Pitate.

***

Opal sebenarnya bukan teman sejak kecil. Kami baru kenal saat kami sudah duduk di bangku SMA. Opal adalah anak yang baik, bahkan bisa dibilang terlalu baik. Aku sendiri banyak belajar dari dia karena kebaikan hatinya.

Waktu kami kenal , Opal belum lama tinggal di Manado. Dia numpang di rumah omnya karena harus melanjutkan sekolah di Manado. Sebelumnya dia tinggal bersama omanya di kampung.

Opal sebenarnya juga tidak tinggal di om yang benar benar keluarganya. Yang dipanggil om ini sebenarnya adalah suami dari adik papa tiri opal. Selain alasan sekolah, setahu saya opal juga sudah tidak terlalu dekat dengan papa tirinya ini sejak mamanya meninggal.

Opal memang anak dari keluarga broken home. Lahir dari rahim seorang guru Sekolah Dasar, Opal adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya Opal adalah anak yang istimewa, saya lebih suka menyebutnya istimewa dibanding cacat. Walaupun secara umur lebih tua, dia justru lebih kekanakan dari kami karena sejak lahir mengalami keterbelakangan mental. Sakit ini membuat si kakak tidak bertumbuh seperti anak-anak yang lain.

Sejak kecil Opal sudah ditinggal sama papa kandungnya karena merantau. Dulu setiap saya tanya,"papa kamu di mana sih pal?"
Opal menjawab dengan riang, "Papa aku di jakarta. Dia artis film layar lebar dan film televisi."
"Oh ya?" jawab aku kaget. "Siapa namanya? Berarti aku sering lihat dong di TV."
"Iyalah. Coba aja kalo kamu nonton sinetron. Ada pemeran pria yang bernama TT. Sama kan dengan marga aku", jawab Opal pura-pura bangga.
"Oh gitu. Pantas aja kamu marganya beda ya sama papa kamu yang sekarang." timpal aku lagi.

Opal selalu menceritakan kisah itu setiap ada yang tanya. Dan entah benar atau tidak, aku tidak ambil pusing. Artis kek, pejabat kek, presiden kek, tapi tetap aja papanya bermental bobrok menurut aku. Karena dia meninggalkan seorang istri dengan 2 anak, dan yang satunya istimewa.

Opal dan kakaknya tidak terlalu diterima sama sang papa yang baru. Mungkin karena kondisi kakak Opal juga ya. Mengingat papanya ini lagi menata karir PNS yang cukup menjanjikan kala itu. Aku aja pertama kenalan waktu itu papanya udah menduduki jabatan Camat.

Tinggal dengan oma dan keluarga yang lain tentu tidak senyaman dengan keluarga sendiri yang lengkap. Apalagi setelah mamanya meninggal Opal berbenturan juga dengan papa tirinya. Dan lebih parah ketika beliau menikah lagi serta punya anak. Opal dan kakak makin jauh tersisih.

Menurut cerita omnya, tempat dia tinggal saat itu, Opal agak tertutup. Mungkin pengaruh jalan hidupnya yang berat. Malahan kerinduannya sama sang mama sering membuat dia mengkhayalkan mamanya secara berlebihan.

Suatu kali saat kami mengikuti Ibadah Pantai, aku melihat kejadian unik dengan Opal. Dia tiba-tiba menyendiri dan bermain dengan pasir. Kulihat dia membuat dua gundukan pasir dimana yang satu lebih besar dari yang lain.

"Bikin apa pal," tanya aku penasaran.
"KUBUR..." jawabnya singkat sambil tetap sibuk mengelus-elus gundukan pasir.
"Hah?!" kaget setengah mati tapi aku lanjut bertanya. "Kubur siapa? Kok ada dua kuburnya?"
"Yang besar ini kubur mama aku. Yang kecil ini kubur untuk aku. Aku mau kalau mati nanti dikubur dengan kuburan mama." jawabnya santai sambil senyum. Kayak lagi cerita biasa saja. Malah aku yang jadi ketakutan.

Setelah itu aku makin penasaran dengan sosok Opal. Misterius tapi asyik berteman dengannya. Yang paling kusukai, Opal ini amat sangat sabar. Selalu riang gembira dan menerima apa pun untuknya tanpa mengeluh sedikitpun.

Tinggal dengan keluarga omnya yang punya bengkel mobil, membuat Opal harus ikutan kerja membantu omnya. Harus bangun pagi untuk isi air untuk keperluan satu rumah dan beres-beres halaman sebelum bersiap ke sekolah. Pulang sekolah kembali berkutat menjadi asisten montir yang patuh mendengarkan arahan si om. Dan karena rumah mereka kecil, Opal kalau malam kadang tidur di lantai, di bangku, atau di mobil yang sementara diperbaiki. Pokoknya di mana saja yang kosong dan bersih. 

Pernah aku tanyakan ke dia apa tidak capek jadi kamu? Dia cuma senyum dan bilang, "Capeklah. Emang Superman. Tapi cuma ini satu-satunya cara bisa hidup. Sudah untung keluarga omku mau terima aku tinggal di sini. Papa aku saja gak mau." 

Kami biasa ngobrol sampe tengah malam. Kadang sambil nyanyi dengan diiringi gitar, walaupun suara gitar lebih banyak ngawur dan sumbang karena kami berdua sama-sama masih belajar. Saya senang bisa banyak belajar dari sosok Opal yang humble dan mau berjuang untuk hidupnya. Dia cuma punya satu tujuan yaitu menyelesaikan sekolah dan perbaiki hidup, termasuk membiayai pengobatan kakaknya.

Hari terus berlalu dan kami berdua berteman terus karena juga sama-sama bertumbuh sebagai remaja dan pemuda Gereja. Opal banyak perkembangan dan semakin terbuka dalam pergaulan. Mungkin karena semakin dewasa dia sudah semakin kuat menghadapi keadaan hidup yang pahit. Tapi dia tidak pernah memancarkan kepahitan itu. Malah dia sering menjadi saluran berkat buat kami teman-temannya.

Saya lebih dulu duduk di bangku kuliah karena selisih tahun pelajaran saja. Ketika Opal akhirnya menyelesaikan bangku SMA, aku tanya apa dia mau kuliah, Opal jawab "mau dong" alasannya, kalau kuliah bisa dapat kerja yang gajinya lebih besar dibanding SMA. Saya sepakat.

Dan bukan kebetulan juga kalau dia akhirnya ikut-ikutan kuliah sejurusan dengan aku. Maka kisah persahabatan kami terus berlanjut termasuk kisah-kisah kami dalam belajar mengenal dan melayani Dia, TUHAN sang panglima hidup kami berdua.

Tuhan pun tetap menyertai kami berdua hingga selesai S1 walau banyak jatuh bangunnya. Pengalaman terunik ketika kami berdua mengenal dunia pelayanan roh yang sama sekali tidak kami ketahui. Maklum di Gereja kami kurang sekali mengenalkan dimensi ini. Maka majulah kami seperti Daud melawan Goliath. Modal nekat dan keyakinan kalau Tuhan Allah bersama kami, SIAPA LAWAN KAMI? TIDAK ADA.

Singkat cerita, kini Opal sudab berhasil sebagai abdi negara dengan jabatan yang lumayan. Bukankah orang yang disertai Tuhan akan menjadi Kepala dan bukan ekor. Tapi Opal tetap saja sama seperi yang kukenal dulu. Dia tetap humble, tetap riang, dan tetap tampil terdepan menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Opal diberkati dengan seorang istri yang sekian lama menjadi teman pelayanannya. Unik juga sih, dulu Opal sering menemani istrinya ini kalau mau ketemu pacarnya. Tapi ternyata justru dialah yang menjadi istri Opal. Makanya pacaran gak pake lama, mereka udah tahu rahasia dan gaya pacaran masing-masing. Hehehe...

Hidupnya juga makin lengkap dengan 2 orang putri cantik yang pintar dan juga mengasihi orang tuanya. Saya bersyukur kepada Allah untuk itu semua. Karena saya yakin Allah membayar dengan sempurna Kasih Opal selama ini yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya walau dalam kekurangan sekalipun.

Opal pun setahu saya puas karena ayat Firman Tuhan yang dulu selalu dinyanyikannya, menjadi nyata dan sempurna dalam kisah hidupnya. Saya ingin bagikan ayat itu untuk semua Sobat Hati Pitate.



2 Korintus 12:9 -  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 

Di situlah takjubnya aku sama Opal. Dalam semua kemalangan, kesusahan, serta kelemahannya, dia tetap taat sama Tuhan karena dia yakin Kuasa Tuhan menaungi dia dan Kasih KaruniaNya justru sempurna dinyatakan dalam hidupnya. Meskipun dia baru merasakan itu bertahun-tahun sejak saat penderitaannya.

Semoga kisah Opal ini bisa jadi inspirasi buat semua sobat. Sayang sekali si Stanly tidak mengijinkan foto si Opal dimuat di sini. Mungkin dia takut karena Opal lebih ganteng dari dia.... Hahahaha....

***

Kisah ini didedikasikan untuk seorang sahabat yang telah menjadi bukti kasih Tuhan dalam hidup saya dan keluarga. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang setia dan siap menopangku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.