Header Ads

Beriklan di Hati Pitate

Mana porsi untuk Tuhan ?

Anak saya punya kesukaan ngemil yang sama dengan saya. Kami berdua, sama-sama suka makan martabak terang bulan. Dalam seminggu, terkadang kami beli martabak terang bulan sampai dua kali. Malah kalau penghuni rumah bertambah, kami tidak akan cukup makan martabaknya kalau hanya beli 1 piring saja, sekurangnya 2 piring. Kami pun terbiasa menikmati martabak itu bersama-sama sambil menikmati tayangan hiburan di TV.

Sekali waktu, saya pulang agak larut dari tempat kerja. Saya sebelumnya sudah berjanji akan membelikan martabak untuk anak saya saat pulang hari itu. Namun karena terlambat pulang, dia mulai rewel sama mamanya ingin makan martabak. Setelah konfirmasi ke saya, mamanya pun langsung membelikan sepiring untuknya. Singkat cerita mereka berdua di rumah menikmati martabak tanpa kehadiran saya seperti biasanya. Saking asyiknya mereka makan, tidak terasa di atas piring tinggal ada satu potong martabak. Ketika tangan mungil anak saya sudah mulai mendekati potongan terakhir itu, mamanya langsung protes, ' eits, ade... sisakan buat papa martabaknya!' dan si kecil menjawab, 'ma, papa kan tidak ada. Kita bagi dua saja yang sepotong itu. Nanti jangan bilang ke papa kalau kita berdua beli martabak.' Istri saya hanya senyum sebentar kemudian memberikan jawaban, 'ade tidak boleh begitu ya. Pertama, mama tadi sudah bilang lebih dulu ke papa kalau kamu minta martabak. Kedua, papa harus tetap dapat bagian dong. Kan kita beli martabak dari hasil kerjanya papa, kasian kan papa yang suka martabak terus tidak kebagian. Padahal duit papa juga yang dipake untuk beli martabak...'. Si kecil hanya terdiam namun menarik tangannya kembali dari potongan martabak yang terakhir.

Tanpa disadari kalau hidup kita juga seperti ini terhadap Tuhan. Setelah semua berkat yang kita terima dariNya, ada berapa banyak kesempatan dalam hidup kita dimana kita mengingat Tuhan sebagai sumber berkat? Saat kita menghadapi kesusahan, mungkin Tuhan seperti terbayang terus di mata dan di pikiran kita. Bagaimana di saat lagi senang-senang? 

Apalagi saat kita menerima berkat yang luar biasa besarnya, seringkali justru kita lupa porsi untuk Tuhan dalam bentuk persembahan syukur. Kalau pun akhirnya kita ingat, mungkin porsi yang kita berikan tinggal sedikit. Ini sungguh ironi mengingat kita ternyata melupakan sumber berkat, karena kita terlalu senang saat menerima berkat. Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa begitu?

Jawabannya sederhana, karena terlalu banyak hal yang menyibukkan pikiran kita ketika menerima berkat dari Tuhan. Kita sibuk tentang bagaimana cara menerima berkat dengan baik, kita juga mungkin pusing mengenai bagaimana menyimpan berkat yang kita terima, atau kita lagi bingung bagaimana cara membagi berkat tersebut. Terlalu banyak hal yang mengalihkan perhatian kita dari Tuhan yang memberikan berkat. Alhasil, Tuhan baru teringat di saat-saat terakhir, atau malah dilupakan juga. 

Ketika menulis ini, saya pribadi juga seperti ditampar, karena memang ini sering juga terjadi pada diri saya. Mudah-mudahan dengan pertolongan Tuhan, saya bisa merubahnya. Bagaimana dengan anda?(csi)

Simak Video ini baik-baik dan dapatkan pesan di baliknya

2 komentar:

  1. amin.
    btw, pantas endu so lebe ode, sasadiki kunya martabak kote.. awas kolestrol bos.

    BalasHapus
  2. hahaha... bisa saja kakakku ini. Ya seperti orang bilang, hidup bukan hanya dari roti saja... ada nasi, ikan, sayur, buah, susu, dan martabak. Wkwkwkwk..... Tapi artikel ini memberkati toh?!?!

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.